Ringkasan cepat
  • Yang langka bergeser dari mengerjakan ke meniatkan, memutuskan, dan memeriksa. Organisasi yang bisa mendapat keluaran yang sama dengan lebih sedikit orang akan melakukannya, fungsi demi fungsi, bukan sekaligus.
  • Perumpamaan jenderal berasal dari doktrin perintah misi, dan doktrin itu hanya bekerja kalau komandan dan bawahan dididik di sekolah yang sama bertahun-tahun. Jenderal dibentuk oleh lembaga, dan oleh tahun-tahun menjadi prajurit.
  • Di Indonesia, 13,60 juta pekerja bebas berpenghasilan bersih rata-rata Rp1,68 juta sebulan. Usaha satu orang sudah menjadi kenyataan mayoritas, dan tiga hal memisahkannya dari agensi tinggi: doktrin, perbendaharaan, dan sekolah staf.

Pada April 2025, pendiri sebuah perusahaan perangkat lunak perdagangan daring mengirim memo ke seluruh karyawannya, lalu mengunggahnya sendiri sebelum media sempat membocorkannya. Isinya satu aturan. Sebelum meminta tambahan orang atau sumber daya, tim harus menunjukkan mengapa pekerjaan itu tidak bisa dikerjakan kecerdasan buatan. Pertanyaan tentang pemakaian AI ikut masuk ke lembar penilaian kinerja. Memo itu diberitakan luas, dan dalam beberapa bulan aturan serupa muncul di perusahaan lain. Satu di antaranya menarik nadanya kembali setelah karyawannya membaca memo itu sebagai daftar pemecatan yang sopan.

Aturan itu membalik anggapan yang selama seabad tidak pernah dipertanyakan di ruang rapat mana pun: pekerjaan yang bertambah berarti orang yang bertambah.

Saya membaca memo itu beberapa kali. Saya berhenti bukan pada ancamannya, sebab ancaman pemangkasan sudah ada sejak mesin uap. Saya berhenti pada urutan barunya. Selama ini orang ditambah dulu, lalu diberi alat. Sekarang alatnya sudah ada, dan orang harus membuktikan tempatnya di sebelah alat itu.

Kartu absensi mesin jam yang penuh stempel jam masuk dan jam keluar dari tanggal satu sampai tiga puluh, kertasnya kusam. Di sebelah kanan kartu ada kolom bertulisan tangan “hasil” yang seluruh barisnya kosong. Satu stempel merah di baris terakhir menjadi warna tunggal di kartu itu.

Gambar 1. Kartu yang penuh dan kolom yang kosong. Ukuran yang dipraktikkan hari ini masih menghitung kehadiran di sebelah alat, bukan hasil yang keluar darinya.

Tim kecil bukan penemuan tahun ini

Pada Februari 2014, sebuah perusahaan pesan singkat dengan 55 karyawan dan 450 juta pengguna bulanan dibeli seharga 19 miliar dolar. Dua tahun sebelumnya, perusahaan berbagi foto dengan 13 karyawan dibeli seharga satu miliar. Tidak ada kecerdasan buatan dalam dua cerita itu. Tim kecil dengan jangkauan raksasa sudah mungkin sejak perangkat lunak bisa disalin tanpa biaya dan pengguna bisa saling mengundang tanpa tenaga penjual.

Sekarang pola itu berpindah tempat. Dulu ia terkurung di perangkat lunak konsumen, tempat satu produk melayani semua orang dengan cara yang sama. Sekarang pola itu merambat ke fungsi yang selama ini dianggap tidak bisa dikecilkan karena mengandung percakapan manusia. Pada September 2025, sebuah perusahaan perangkat lunak besar mengumumkan bagian layanan pelanggannya menyusut dari sembilan ribu orang menjadi sekitar lima ribu, dengan separuh percakapan pelanggan ditangani agen perangkat lunak.

Angka itu perlu didampingi angka lain supaya tidak menjadi cerita yang terlalu rapi. Di tingkat ekonomi, adopsi AI sampai awal 2026 masih terkonsentrasi di perusahaan besar: perusahaan dengan 250 karyawan atau lebih naik dari sekitar 4 ke 12 persen dalam dua tahun, sementara perusahaan kecil naik dari 3 ke 8 persen, dan hampir 90 persen lowongan bertema AI datang dari satu persen perusahaan. Ekonominya tidak mengecil. Fungsi yang mengecil, satu demi satu, dimulai dari yang keluarannya paling mudah diperiksa.

Prajurit, jenderal, dan sebuah doktrin tua

Perumpamaan yang beredar untuk menggambarkan pergeseran ini berbunyi kira-kira begini: pekerja tidak lagi prajurit yang menjalankan perintah, tetapi jenderal yang memegang niat dan mengarahkan pasukan mesin.

Perumpamaan itu lebih tua dari kecerdasan buatan. Tentara Prusia abad kesembilan belas menyebutnya Auftragstaktik, taktik perintah misi. Komandan menyampaikan niat dan keadaan akhir yang diinginkan. Bawahan bebas memilih cara, dan diharapkan menyimpang dari perintah tertulis kalau keadaan di lapangan sudah berubah. Doktrin itu dibakukan dalam Truppenführung tahun 1933 dan hari ini diajarkan sebagai mission command di banyak angkatan bersenjata. Pada 2020 doktrin yang sama dibahas ulang untuk sebuah pertanyaan yang terdengar akrab: apa yang tersisa dari perintah misi kalau bawahannya mesin.

Doktrin itu punya syarat yang jarang ikut dikutip. Perintah misi hanya bekerja kalau komandan dan bawahan dididik dalam doktrin yang sama selama bertahun-tahun, sehingga niat yang disampaikan dalam dua kalimat dipahami sama persis di kedua ujung. Tentara yang menganutnya membangun sekolah staf, latihan bersama, dan kebiasaan saling percaya jauh sebelum perintah pertama diberikan. Tanpa sekolah bersama itu, kebebasan memilih cara berubah menjadi tebakan, dan komandan yang menyampaikan niat dalam dua kalimat sedang menyerahkan pasukannya kepada tebakan orang lain.

Perumpamaan jenderal membawa beban yang tidak tampak pada spanduknya. Jenderal dibentuk oleh lembaga, dan oleh tahun-tahun menjadi prajurit.

Ukurannya belum ikut pindah

Kalau pekerjaan berpindah dari mengerjakan ke meniatkan, memutuskan, dan memeriksa, ukurannya seharusnya ikut pindah. Sepanjang 2025 terjadi sebaliknya. Ukuran yang benar-benar dipraktikkan tetap pemakaian: seberapa sering alat itu dipakai, dicatat, lalu dibawa ke penilaian kinerja. Itu ukuran masukan, dan apa yang terjadi ketika jumlah prompt dijadikan KPI sudah pernah saya tulis: kepatuhan palsu, dokumen rapi yang tidak menambah nilai, dan beban pemeriksaan yang berpindah ke penerima keluaran tanpa pernah dicatat.

Ada masalah kedua yang lebih dalam. Agensi terasa dari dalam, dan perasaan itu tidak bisa dipercaya. Pada Juli 2025 sebuah lembaga riset menguji 16 pengembang berpengalaman pada 246 tugas nyata dengan pembagian acak, sebagian memakai alat AI dan sebagian tidak. Yang memakai AI selesai 19 persen lebih lambat. Sebelum mulai, mereka memperkirakan akan 24 persen lebih cepat. Sesudah selesai, dengan hasil sudah di tangan, mereka masih mengira telah 20 persen lebih cepat. Enam belas orang bukan sensus, dan alat yang diuji adalah alat pertengahan 2025. Tetapi jarak hampir empat puluh poin antara rasa dan ukur cukup untuk satu kesimpulan: ukuran seorang jenderal harus datang dari luar dirinya.

Kalau memakai bahasa perintah misi, ukuran yang cocok ada tiga. Niat yang tercapai. Biaya kesalahan yang sanggup ditanggung. Keluaran yang diperiksa terhadap sumbernya dalam hitungan menit, sebab alat memperluas apa yang terperiksa dan tidak memperluas apa yang tertindaklanjuti. Ketiganya ukuran hasil, dan tidak satu pun bisa dibaca dari log pemakaian.

Tangga yang dicabut anak tangganya

Ada satu pertanyaan yang tidak muncul dalam memo mana pun: kalau jenderal dibentuk oleh tahun-tahun menjadi prajurit, dan tahun-tahun itu sedang dihapus, dari mana jenderal berikutnya datang.

Data pertama yang cukup besar untuk menjawabnya terbit pada Agustus 2025 dan diperbarui November di tahun yang sama. Tiga peneliti dari Stanford membaca catatan penggajian lebih dari 26 juta pekerja Amerika dan menemukan pekerja berusia 22 sampai 25 tahun di pekerjaan yang paling terpapar AI turun 13 sampai 16 persen relatif terhadap rekan seusia di pekerjaan yang kurang terpapar. Pekerja berpengalaman di pekerjaan yang sama tidak bergerak. Penurunan hanya muncul di pekerjaan tempat AI dipakai untuk mengotomasi, bukan di pekerjaan tempat AI dipakai untuk menambah kemampuan orangnya. Para penulisnya berhati-hati menyebut studinya observasional, tanpa eksperimen yang mengatur adopsi AI. Pola yang mereka temukan tetap sulit diabaikan.

Tugas yang hilang itu dulu menjadi tempat belajar. Menyusun draf pertama yang akan dicoret atasan. Memeriksa angka yang ternyata salah. Menelepon pelanggan yang marah. Tidak ada yang menganggapnya pekerjaan jenderal, dan tepat karena itu tidak ada yang menghitungnya sebagai sekolah. Di saat yang sama, jumlah bawahan langsung per manajer di usaha kecil dan menengah Amerika naik dari sekitar tiga menjadi sekitar enam dalam lima tahun, sehingga orang yang dulu mencoret draf pertama itu kini mencoret dua kali lebih banyak draf dengan waktu yang sama.

Doktrin perintah misi punya nama untuk yang sedang hilang ini: sekolah staf. Tempat orang belajar membaca niat, menimbang biaya salah, dan memeriksa keluaran, sebelum diberi kebebasan memilih cara.

Jenderal itu milik siapa

Ada sisi lain dari otonomi tinggi yang jarang dibahas di memo, dan seorang peneliti manajemen menuliskannya dengan tajam pada Agustus 2026. Ketika beberapa orang yang ditopang agen AI sanggup mengerjakan atau mengoordinasi pekerjaan yang dulu tersebar di beberapa posisi, perusahaan boleh jadi memangkas orang. Tetapi pengetahuan tentang cara kerja baru itu tinggal di alur kerja pribadi beberapa orang saja. Kalimatnya patut dikutip utuh: apa yang tampak sebagai pembelajaran organisasi mungkin sebagian pembelajaran perorangan, dan apa yang tampak sebagai kemampuan baru mungkin sebagian tumpukan alat pribadi. Perusahaan memiliki daftar gaji, bagan organisasi, dan barangkali lisensi perangkat lunaknya, tetapi belum tentu memiliki rutinitas yang menghasilkan produktivitas itu.

Pola ini bukan hal baru bagi siapa pun yang pernah melihat proyek berhenti tanpa pengumuman. Orang yang tahu caranya pindah, dan konfigurasinya tidak pernah ditulis. Kecepatannya yang baru. Jenderal yang membawa doktrinnya sendiri di laptop pribadi bisa membuat satu fungsi berjalan dengan seperempat orang, dan bisa membawa pergi fungsi itu sebelum masa pemberitahuan pengunduran dirinya habis.

Otonomi individu dan kerapuhan organisasi naik bersamaan, karena keduanya berasal dari sumber yang sama. Perusahaan yang ingin jenderal, tetapi tidak ingin bergantung pada satu jenderal, harus menulis doktrinnya sendiri. Bukan dalam bentuk aturan pemakaian alat, tetapi dalam bentuk niat yang bisa dijalankan tanpa diawasi dan tetap bisa dijalankan setelah orangnya pergi.

Dilihat dari sini

Sampai di sini pembicaraannya masih tentang perusahaan perangkat lunak di benua lain. Angka yang lebih dekat berbunyi berbeda.

Badan Pusat Statistik mencatat, per Februari 2026, 147,67 juta orang bekerja di Indonesia, dan 13,60 juta di antaranya pekerja bebas, yaitu orang yang bekerja untuk orang lain tanpa ikatan tetap, dengan pendapatan bersih rata-rata Rp1,68 juta sebulan. Di Nusa Tenggara Timur angkanya Rp1,09 juta. Per Mei 2026, 59,30 persen penduduk bekerja berada di sektor informal, 87,88 juta orang.

Usaha satu orang, kalau begitu, bukan masa depan di negeri ini. Ia masa lalu dan masa kini bagi sebagian besar orang yang bekerja, dan wujudnya bukan agensi tinggi. Yang membedakan seorang jenderal dari seorang pekerja bebas bukan kebebasan memilih cara, sebab keduanya sama-sama memilikinya. Bedanya ada pada tiga hal yang tidak pernah dibutuhkan prajurit, karena prajurit menerimanya dari lembaga tanpa menyadari.

Doktrin: niat yang cukup jelas untuk dijalankan tanpa diawasi, dan cukup dalam untuk bertahan ketika keadaan berubah. Perbendaharaan: penyangga yang membuat bulan tanpa pemasukan menjadi keputusan, bukan bencana, sebab pekerjaan tetap selama ini membungkus uang, keamanan, struktur, identitas, dan makna dalam satu paket, dan saat paket itu dibuka, keamanannya hilang lebih dulu. Sekolah staf: tempat belajar menimbang biaya salah sebelum kesalahan itu ditanggung sendiri.

Otonomi karena pilihan dan otonomi karena tidak ada pilihan tampak sama dari jauh. Keduanya bekerja tanpa atasan, memilih jam sendiri, dan menanggung hasilnya sendiri. Dari dekat, yang satu punya tiga hal itu dan yang lain tidak. Generasi yang paling banyak disebut adaptif juga generasi yang paling sering diminta menjadi jenderal tanpa satu pun dari ketiganya.

Selembar formulir perintah misi bergaris. Tiga barisnya diisi tangan: niat, batas, cara memeriksa. Di bawahnya tiga stempel tinta bertuliskan doktrin, perbendaharaan, sekolah staf. Stempel ketiga belum ditekan, masih tergeletak miring di sudut kertas, dan hanya bantalan tintanya yang berwarna.

Gambar 2. Perintah misi untuk satu orang. Dua stempel pertama bisa disiapkan sendiri dengan waktu; stempel ketiga selama ini dibayar lembaga, dan lembaga itu sedang mengecil.

Yang tersisa untuk ditanyakan

Perusahaan yang meminta bukti bahwa AI tidak sanggup sebelum menambah orang sedang menjawab satu pertanyaan dengan jujur: berapa orang yang dibutuhkan. Pertanyaan yang tidak ikut dijawab, dan belum ada memo yang mencobanya, adalah siapa yang membiayai sekolah staf ketika lembaga yang selama ini membiayainya sedang sibuk mengecil.

Kalau jawabannya setiap orang untuk dirinya sendiri, maka jenderal berikutnya akan datang dari mereka yang kebetulan punya perbendaharaan untuk bersekolah tanpa gaji. Kalau jawabannya masih lembaga, maka lembaga itu harus menemukan cara mengajar tanpa tugas yang dulu menjadi bahan ajarnya. Saya belum melihat keduanya dicoba dengan sungguh-sungguh, dan mungkin di situlah tempat pekerjaan yang sesungguhnya bagi orang yang ingin disebut jenderal.


Disclaimer: Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi mana pun. Informasi disajikan untuk tujuan edukasi, bukan nasihat profesional.