Pada bagian ini, saya ingin berbagi catatan sederhana hasil pengamatan dan pengalaman selama bertahun-tahun mengorkestrasi sistem kompleks, dari rekayasa perangkat lunak, pengadaan IT, manajemen risiko, hingga upaya memperbaiki layanan utilitas air di Indonesia sebagai laboratorium nyata. Tulisan ini bukanlah karya akademis yang kaku, melainkan lahir dari diskusi informal di lapangan, observasi lintas-sektor, serta proses coba-coba yang kadang berhasil, kadang gagal.
Setelah bertahun-tahun menyaksikan dinamika lintas-sektor, saya semakin yakin bahwa hal terpenting bukanlah alat atau metode, seberapa canggih pun teknologinya, melainkan kejelasan tujuan: untuk apa sistem ini kita bangun? Untuk siapa?
“Disclaimer: Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis sebagai praktisi profesional dan tidak mewakili sikap atau kebijakan resmi dari institusi/perusahaan tempat penulis bekerja.”
Teknologi seharusnya menjadi pembantu, bukan tujuan akhir. Bagaimana memilih teknologi yang sesuai dengan kebutuhan, kapasitas, dan kondisi setiap daerah, bukan sekadar mengikuti tren.
2
Kepemimpinan dalam Ketidakpastian
Perubahan di sektor teknologi dan infrastruktur kritis terjadi sangat cepat. Bagaimana para pemimpin bisa tetap tenang, mendengarkan banyak pihak, dan membuat keputusan bijak di tengah situasi yang belum pasti?
3
Nilai yang Berkelanjutan
Kesuksesan sejati terletak pada manfaat jangka panjang bagi semua pihak: pelanggan, karyawan, lingkungan, dan masyarakat sekitar. Bukan hanya pencapaian instan.
4
Tata Kelola yang Memudahkan
Sistem pengelolaan yang baik (governance) sering dianggap sebagai penghambat. Padahal, jika dirancang dengan hati-hati, ia justru menjadi landasan untuk berkembang secara sehat dan transparan.
5
Belajar Bersama
Kemajuan sektor teknologi dan infrastruktur tidak mungkin diraih sendirian. Melalui berbagi pengalaman, kegagalan, dan praktik sederhana yang berhasil, kita bisa saling menguatkan.
Silakan jelajahi catatan-catatan berikut dengan hati terbuka. Mereka bukanlah kebenaran mutlak, melainkan undangan untuk bersama-sama merefleksikan langkah ke depan.
Diskusi dan masukan dari berbagai pihak sangat saya hargai, karena perjalanan ini milik kita semua.
Ditulis dengan kerendahan hati, untuk kemajuan sistem dan layanan publik yang lebih baik.
tetralogi Ketahanan Air: Empat Buku, Satu Amanah
Sepertiga air minum Indonesia hilang sebelum menjadi tagihan, dan itu baru lapisan pertama masalahnya. Di baliknya menunggu tata kelola yang berantakan, manusia yang tidak diurus, dan teknologi yang menggeser fondasi bisnis air itu sendiri. Empat masalah yang bersarang satu di dalam yang lain, dijawab empat buku yang dirancang sebagai satu komposisi: tetralogi Ketahanan Air. Tersedia daring, gratis, dan terbuka untuk dikoreksi.
Air untuk Peradaban: Mengapa Ketahanan Air Diputuskan di Hilir, Bukan di Sumbernya
Dalam neraca BUMD air minum nasional tahun 2023, satu angka muncul berulang kali tanpa pernah benar-benar mengejutkan siapa pun: 33,51 persen. Itulah volume air yang sudah diolah, sudah dipompa, sudah diberi bahan kimia, namun tidak pernah berubah menjadi tagihan. Setiap tiga liter air yang keluar dari instalasi pengolahan, satu liter lenyap sebelum mencapai keran pelanggan. Nilainya tidak kecil: ia setara dengan energi listrik, reagen kimia, jam kerja, dan cicilan utang yang dibebankan ke tarif seluruh pelanggan, termasuk pelanggan rumah tangga yang paling tidak mampu.
...
Memperkenalkan nrw Playbook: Sebuah Ijtihad untuk Air Indonesia
Ada kegelisahan yang menggantung setiap kali saya berdiskusi tentang Non-Revenue Water (NRW) atau Air Tak Berekening dengan rekan-rekan PDAM.
Indonesia punya ribuan insinyur teknis yang paham betul cara menyambung pipa atau membaca pressure logger. Di sisi lain, ada jajaran direksi dan pemangku kebijakan yang sangat peduli pada profitabilitas dan pelayanan.
Namun, seringkali kedua kubu ini tidak “nyambung”.
Orang teknis berbicara tentang Head Loss dan koefisien gesek Hazen-Williams, sementara orang manajemen berbicara tentang Return on Investment (ROI) dan OpEx. Akibatnya, program penurunan kebocoran sering macet. Ia dianggap “proyek teknis” yang menghabiskan uang, bukan “strategi bisnis” yang menyelamatkan perusahaan.
...
Jebakan Digitalisasi NRW: Aplikasi Tidak Menambal Pipa
Pertanyaan “aplikasi apa yang paling bagus untuk menurunkan NRW?” punya jawaban yang mengecewakan: tidak ada. Aplikasi tidak menambal pipa; petugas lapangan yang menambal. Yang menentukan bukan kecanggihan sistemnya, melainkan apakah orang yang menemukan kebocoran dihargai atau dihukum. Tulisan ini membedah jebakan insentif itu, urutan yang benar antara pembenahan budaya dan pembelian teknologi, serta indikator awal yang layak dipantau jauh sebelum angka NRW bergerak.
Masa Depan Air Indonesia: Paradoks Negeri yang Kaya Air
Indonesia termasuk negeri paling kaya air di dunia, tetapi akses air minum aman baru 11,8 persen dan sepertiga air yang diproduksi hilang sebelum menjadi tagihan. Paradoks itu bukan soal alam; ia soal infrastruktur, investasi, dan tata kelola. Esai ini membaca ke mana sektor ini bergerak satu-dua dekade ke depan, dan mengapa jawabannya diputuskan di ruang pengelolaan, bukan di langit.
Kepemimpinan di Era Transformasi: Sebuah Refleksi
Teknologi, proses, dan metodologi penting, tetapi sekunder. Dari pola yang berulang lintas organisasi, keberhasilan transformasi hampir selalu ditentukan tiga hal yang sama: visi yang konkret dan bisa diukur, kepercayaan yang dibangun lewat konsistensi bertahun-tahun, dan kesediaan pemimpin mengambil keputusan sulit yang tidak bisa didelegasikan.