Kalau Anda mengumpulkan brosur teknologi air lima tahun terakhir, isinya hampir seragam: SCADA, sensor IoT, smart meter, kecerdasan buatan, digital twin. Semua tersedia di pasar, semua bisa dibeli, dan semua sudah dibeli oleh cukup banyak utilitas air Indonesia.

Tetapi hasilnya tidak seragam. Sebagian utilitas benar-benar menurunkan kehilangan airnya sampai belasan persen. Sebagian lain berakhir dengan dasbor yang menyala di ruang rapat dan angka yang tidak bergerak. Karena teknologinya sama, pembedanya pasti bukan teknologi.

Tulisan ini mencoba membaca pembedanya dari kasus-kasus yang terdokumentasi publik, bukan dari brosur.

Tiga kasus yang layak dibaca pelan

Tugu Tirta, Kota Malang. Salah satu kisah penurunan kehilangan air paling terdokumentasi di Indonesia: pada akhir 2021 tingkat kehilangan airnya tercatat 15 persen, dan awal 2022 menyentuh 13 persen [1], jauh di bawah rata-rata nasional yang bertahan di kisaran 33 sampai 34 persen (deret nasionalnya terdokumentasi di catatan data NRW Indonesia ). Yang jarang dikutip dari kisah ini: hasil itu bukan buah satu proyek pengadaan, melainkan disiplin bertahun-tahun membangun zona pengukuran (DMA), memasang sensor di pintu-pintu zona, dan, ini kuncinya, benar-benar menghitung neraca air per zona lalu menindaklanjutinya.

PAM JAYA, Jakarta. Setelah berakhirnya era swastanisasi pada 2023, operator ibu kota memikul mandat cakupan layanan 100 persen pada 2030, dan menargetkan kehilangan air turun ke 9 persen pada 2029 [2]. Target itu agresif; angka berangkatnya masih jauh di atasnya. Tetapi ada satu hal yang membuat kasus ini layak dipantau: pipanisasi besar-besaran yang menyertainya berarti sebagian jaringan dibangun smart-ready sejak awal, bukan dipasangi sensor belakangan. Membangun kemampuan digital di jaringan baru selalu lebih murah daripada menambalkannya ke jaringan tua.

Perumda Cilegon Mandiri. Program penurunan kehilangan airnya berbasis IoT terdokumentasi di kanal resminya, dan satu detail kecil menceritakan banyak hal: utilitas dari Denpasar datang belajar ke Cilegon [3]. Di sektor yang jarang saling membuka data, menjadi tempat berguru sesama operator adalah bentuk validasi yang lebih jujur daripada penghargaan.

Pola yang membedakan

Dari kasus-kasus itu, dan dari pola berulang yang saya kenali sepanjang karier mengamati proyek teknologi lintas industri, pembedanya bisa diringkas dalam tiga hal:

Pertama, yang berhasil mengukur dulu, baru membeli. Malang membangun zona pengukuran sebelum bicara teknologi canggih. Urutan sebaliknya, membeli perangkat dulu lalu mencari masalahnya, adalah resep yang saya bedah di analisis jebakan smart meter : alat pengumpul data tidak berguna bagi organisasi yang belum punya kebiasaan menindaklanjuti data.

Kedua, yang berhasil membenahi insentifnya. Sensor yang jujur hanya bertahan di organisasi yang tidak menghukum pembawa kabar buruk. Transparansi angka per wilayah hanya bekerja bila wilayah yang angkanya buruk diberi dukungan, bukan teguran. Mekanisme lengkapnya saya tulis di jebakan digitalisasi NRW .

Ketiga, yang berhasil menghitung keamanannya sejak awal. Setiap sensor dan sistem kendali yang tersambung adalah permukaan serang baru, dan sektor air kini berada dalam rezim kepatuhan Infrastruktur Informasi Vital. Digitalisasi yang tidak menyertakan anggaran keamanan bukan penghematan, melainkan penundaan biaya dengan bunga. Peta ancamannya ada di analisis keamanan siber utilitas air , dan posisi regulasinya di peta lima lapis regulasi .

Pertanyaan sebelum membeli teknologi Kalau jawabannya belum ada
Sudah adakah zona pengukuran dan neraca air yang dihitung rutin? Bangun itu dulu; ia prasyarat semua analitik
Siapa yang dihukum kalau angka kehilangan air naik setelah sensor dipasang? Benahi insentif dulu, atau sensor akan “dijinakkan”
Berapa persen anggaran proyek untuk keamanan dan untuk manusia? Kalau nol, proyek ini membeli risiko, bukan kemampuan

Tabel 1. Tiga pertanyaan penyaring sebelum investasi digitalisasi. Teknologi hanya menjawab kolom kiri baris pertama; sisanya harus dijawab organisasi.

Pembiayaan bukan penghalang utamanya

Satu keberatan yang selalu muncul: “kami bukan Jakarta; anggarannya dari mana?” Keberatan ini wajar, tetapi menariknya bukan itu yang membedakan kasus berhasil dan macet. Skema pembiayaan yang tersedia makin beragam, dari kerja sama pemerintah-badan usaha untuk infrastruktur besar sampai program insentif internal yang nilainya puluhan juta rupiah. Malang tidak mulai dari anggaran raksasa; ia mulai dari disiplin zona.

Justru proyek yang anggarannya paling besar sering paling rentan macet, karena anggaran besar memungkinkan membeli semua teknologi sekaligus sebelum organisasinya siap memakai satu pun. Pola kegagalan itu bukan khas sektor air; ia pola yang sama dengan proyek ERP yang selesai tapi tidak berhasil .

Satu langkah konkret

Sebelum menyusun daftar belanja teknologi tahun depan, jawab dulu tiga pertanyaan di Tabel 1 secara tertulis, satu halaman, jujur. Kalau ketiganya terjawab, teknologi apa pun yang dibeli akan mendarat di organisasi yang siap memakainya. Kalau ada yang belum, uang teknologi itu lebih baik dialihkan dulu ke prasyaratnya: zona pengukuran, pembenahan insentif, atau kapasitas manusia.

Transformasi digital yang berhasil di sektor air Indonesia bukan cerita tentang utilitas yang paling canggih. Ia cerita tentang utilitas yang mengerjakan hal yang membosankan dengan urutan yang benar, bertahun-tahun, sampai angka yang penting benar-benar bergerak.


FD Iskandar menulis tentang tata kelola teknologi, sistem, dan utilitas air. Strategi NRW selengkapnya, dari neraca air sampai kontrak kinerja, tersedia gratis di NRW Playbook . Kontak: [email protected] .

Disclaimer: Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi mana pun. Seluruh studi kasus berasal dari pemberitaan dan kanal resmi yang dirujuk; penulis tidak memiliki hubungan dengan utilitas yang disebut. Informasi disajikan untuk tujuan edukasi, bukan nasihat profesional.

Referensi

  1. MalangTimes (25 Maret 2022), "Persentase Kehilangan Air Perumda Tugu Tirta Kota Malang": NRW 15% (Desember 2021), 13% (Januari 2022). Baca di MalangTimes
  2. Jakarta Investment Centre, "NRW Reduction": komitmen cakupan 100% pada 2030 dan target NRW 9% pada 2029. Baca di invest.jakarta.go.id
  3. Perumda Air Minum Cilegon Mandiri, "Atasi Kehilangan Air, Tirta Sewakadarma Denpasar Belajar ke Perumda CM". Baca di situs resmi Perumda CM