Refleksi tentang kebijakan, sosial-ekonomi, dan fenomena yang melintas pikiran
CATATAN PENTING
Tulisan di sini adalah opini pribadi yang ditulis sebagai individu, bukan representasi institusi, perusahaan, atau afiliasi mana pun. Saya mencoba melihat fenomena dari kacamata struktural dan sistemik, bukan ideologis. Saya bisa salah. Diskusi terbuka selalu disambut. Baca Selengkapnya
Ada momen ketika saya ingin menulis sesuatu di luar ranah IT, tentang kebijakan yang terasa ambigu, fenomena ekonomi yang menarik, atau dinamika sosial yang layak ditelaah lebih dalam. Tulisan-tulisan itu tidak cocok di section teknis mana pun, tapi sayang kalau dibiarkan hilang begitu saja. Maka lahirlah "Catatan Pinggir", ruang di tepi halaman, tempat catatan yang tidak masuk kategori utama.
Saya berusaha menulis dari kacamata analisis struktural, bukan advokasi. Yang saya minati adalah: mengapa suatu sistem menghasilkan outcome tertentu, bukan siapa yang harus disalahkan. Tapi saya tetap manusia dengan bias, jadi selalu sambut dengan skeptisisme yang sehat.
“Disclaimer: Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis sebagai individu dan tidak mewakili sikap atau kebijakan resmi dari institusi, perusahaan, atau organisasi mana pun yang berafiliasi dengan penulis.”
Yang Terjaga di Lantai Empat Belas
Sains kognitif tentang bagaimana akal paling tajam memilih menjadi tumpul, dan bagaimana pembusukan sebuah negeri sebenarnya dimulai dari satu tanda tangan.
Lantai empat belas gedung kementerian itu sunyi pada pukul delapan malam. Hanya ada dengung pendingin udara, dan satu lampu meja yang menyala. Di bawah cahayanya, di atas meja kayu mahoni, sebuah dokumen tergeletak: empat puluh enam halaman, dijepit rapi, sudut-sudutnya mulai menekuk karena terlalu sering dibuka lalu ditutup kembali.
...
Dua Wajah May Day 2026: Antara Panggung Istana dan Suara yang Tak Diundang
Tanggal 1 Mei 2026, Jakarta punya dua panggung.
Panggung pertama: Monas. Presiden Prabowo naik podium, menjanjikan rumah murah buat pekerja, cicilan 40 tahun, bunga 5 persen. Satuan tugas anti-PHK dibentuk. Goodie bags berisi beras, gula, minyak goreng dibagikan aparat ke ribuan buruh, sebagian menempuh tujuh jam perjalanan dari Jawa Tengah. Musik, senyum, dan spanduk dukungan menghiasi lapangan.
Panggung kedua: depan gedung DPR. Ribuan buruh dari Aliansi Gebrak Buruh dan Rakyat berbaris tanpa goodie bags. Mereka menolak hadir di Monas. Mereka membawa sepuluh tuntutan, dari perlindungan pekerja perempuan sampai penghentian kriminalisasi aktivis. Panggung mereka bukan podium presiden, melainkan mikrofon vokalis The Brandals, Eka Annash: “Meski kita buruh, tapi pajak kitalah yang membiayai program-program mudarat pemerintah.”
...
Disillusionomics: Ketika Sistem Formal Gagal, Gen Z Malah Jadi Lebih Adaptif
Ada istilah baru yang mulai sering muncul di diskusi ekonomi: disillusionomics.
Secara sederhana, istilah ini menggambarkan perilaku ekonomi generasi yang sudah tidak lagi percaya bahwa jalur formal bisa menjamin kehidupan yang layak. Bukan karena mereka tidak mau bekerja keras. Justru sebaliknya: mereka bekerja sangat keras, tetapi dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Saya ingin menelaah ini bukan dari sudut pandang moral, melainkan dari sudut pandang sistem.
Angkanya Bicara Data BPS Agustus 2025 mencatat 2,3 juta orang usia 20-24 tahun masih menganggur. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Februari 2026 berada di 4,68 persen, setara 7,24 juta orang. Sementara itu, rata-rata upah buruh Indonesia sekitar Rp3,29 juta per bulan.
...
Kenapa Kita Sebenarnya Butuh Pekerjaan?
Banyak orang bilang manusia butuh pekerjaan. Kalimat itu terdengar wajar sampai kita bertanya lebih keras: apakah yang kita butuhkan benar-benar pekerjaan, atau hal-hal yang biasanya diberikan oleh pekerjaan?
Pertanyaan ini penting karena banyak orang tidak mencintai pekerjaannya. Mereka mencintai gajinya. Mereka mencintai turunnya kecemasan ketika uang masuk pada tanggal tertentu. Mereka mencintai kemampuan membayar rumah, makanan, sekolah anak, kesehatan, cicilan, dan sedikit ruang bernapas.
Yang sering dibenci bukan kerja produktif. Yang sering dibenci adalah kehilangan kendali atas waktu, politik organisasi, rapat yang tidak jelas, tanggung jawab tanpa kewenangan, dan rasa harus terus membuktikan diri kepada orang yang belum tentu memahami nilai kerja kita.
...