Perjalanan saya merentang dari rekayasa perangkat lunak dan manajemen proyek IT, kemudian melebar ke manajemen risiko, pengadaan, dan strategi bisnis, dengan utilitas air sebagai laboratorium primer untuk menguji prinsip arsitektur sistem dan tata kelola di lapangan. Catatan di sini mengambil pelajaran dari ranah sektoral itu, lalu memperluasnya ke prinsip systems architecture, GRC, dan AI orchestration yang relevan lintas industri.
“Disclaimer: Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis sebagai praktisi profesional dan tidak mewakili sikap atau kebijakan resmi dari institusi/perusahaan tempat penulis bekerja.”
Di sini, saya tidak menawarkan resep baku. Hanya catatan dari ruang rapat, lokasi proyek, dan diskusi dengan berbagai pihak. Teknologi hanyalah alat, yang menentukan dampaknya adalah tujuan, kolaborasi, dan kesadaran konteks.
Teknologi cloud, IoT, atau AI bukanlah jawaban otomatis. Pendekatan sederhana, seperti memetakan alur air secara digital, terkadang lebih efektif daripada solusi canggih yang tidak sesuai kebutuhan.
Menjaga Setiap Tetes Air (NRW)
Kebocoran fisik dan administratif bukan sekadar angka di laporan. Tim lapangan dan analis data bekerja sama menggunakan alat sederhana untuk mengurangi air yang hilang.
Tata Kelola yang Hidup
Governance sering dianggap sebagai beban. Padahal, ketika dirancang untuk memudahkan, bukan menghambat, ia menjadi fondasi kepercayaan pelanggan dan regulator.
Keamanan Siber Tanggung Jawab Bersama
Ancaman digital bukan hanya urusan tim IT. Seluruh lapisan organisasi, dari operator hingga direksi, perlu terlibat dalam membangun budaya keamanan.
Sebuah tim swasta berhasil mengurangi kebocoran 25% hanya dengan memperbaiki prosedur pencatatan dan pelatihan dasar untuk petugas lapangan, tanpa investasi teknologi mahal.
Keamanan Siber
Kolaborasi rutin antara tim operasional dan IT ternyata lebih efektif daripada membeli perangkat mahal yang tidak dipahami pengguna akhir.
Salam hangat, FD Iskandar
Catatan ini hadir untuk berbagi, bukan untuk menjual.
Konsultan yang Dibayar untuk Bilang Belum Siap: Jenis yang Paling Langka di Industri Air Indonesia
Bayangkan dua proposal konsultan ada di meja direksi sebuah PDAM minggu ini.
Proposal pertama tebal dan tegas. Ada peta jalan tiga tahun, delapan fase, target penurunan NRW dari 35 persen ke 20 persen, dan dasbor purwarupa yang sudah bisa diklik-klik saat presentasi. Timeline dimulai bulan depan.
Proposal kedua lebih tipis, dan lebih tidak enak dibaca. Isinya cuma satu permintaan: tiga bulan pertama dipakai untuk memastikan di mana sebenarnya posisi organisasi ini sekarang, sebelum satu rupiah pun dibicarakan untuk fase berikutnya. Tidak ada janji angka. Tidak ada dasbor purwarupa.
...
Digital Twin Bisa Dibangun dalam Sehari, Kepercayaan Terhadapnya Tidak
Satu kalimat perintah, lima menit, biaya token 0,75 dolar. Itu yang dibutuhkan agen coding AI untuk membangunkan saya satu digital twin utilitas air: kota 3D, aliran air beranimasi, simulasi kebocoran, telemetri yang bergerak halus. Terlihat lengkap. Tapi setiap angka di dasbornya dihasilkan satu baris rumus matematika, bukan sensor sungguhan. Tulisan ini membedah kesenjangan antara kecepatan membuat sesuatu terlihat benar dan kecepatan membuat sesuatu memang benar, lalu menawarkan daftar periksa untuk utilitas air yang sedang mengevaluasi proposal serupa dari vendor.
Air Minum Belum Diakui sebagai Infrastruktur Kritis, Setidaknya oleh Indonesia Sendiri
Australia mewajibkan utilitas air melapor insiden siber kritis dalam 12 jam. Selandia Baru mengusulkan sanksi pidana sampai NZD 500 ribu untuk direktur perorangan bila air tidak dilindungi memadai. Payung hukum Infrastruktur Informasi Vital Indonesia sendiri, Perpres 82/2022, tidak mencantumkan air di antara delapan sektor yang diaturnya. Pelindungan yang ada hari ini baru kerja sama bilateral sukarela, bukan kewajiban yang berlaku otomatis.
Kenapa "Cukup Satu Kali Login" Itu Proyek Bertahun-Tahun di Perusahaan Besar
Perusahaan besar berbasis on-premise sering terjebak puluhan sistem login terpisah bertahun-tahun setelah single sign-on jadi standar industri, karena aplikasi lama memakai protokol autentikasi yang tidak dikenali sistem modern. Esai ini membedah trik reverse proxy yang menjembatani tanpa mengubah kode aplikasi lama, memetakan lanskap vendor (Microsoft, Ping Identity, Okta, IBM) versus jalur sumber terbuka Keycloak, dan menjelaskan kenapa migrasinya wajib bertahap per gelombang, bukan sekali gebrak.
BUMN Air Minum Nasional: Sentralisasi atau Pengulangan Kesalahan?
Permen PU Nomor 6 Tahun 2026 membuka tiga opsi transformasi BUMD air minum: holding nasional, klaster regional, atau kontrak operasi. PP PERPAMSI sudah beraudiensi resmi dengan Ditjen Cipta Karya membahas opsi-opsi ini. NRW nasional masih sekitar 33 persen dan baru 46 persen BUMD mencapai full cost recovery, jadi status quo memang tidak berkelanjutan. Tapi ketiga proposal yang beredar sama-sama belum menjawab akuntabilitas lokal, status kepegawaian, dan valuasi aset. Sentralisasi tanpa jawaban atas ketiganya berisiko memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.
Tarif Air Tidak Naik Enam Belas Tahun, Saat Naik Diprotes: Siapa yang Salah?
Di Padang Panjang tarif air beku enam belas tahun sebelum akhirnya naik. Di Bontang, delapan tahun lalu melonjak sekitar 50 persen. Bukan karena tidak ada yang berani: karena keputusan struktural dibebankan ke pundak satu nama, sementara sanksi regulasinya jatuh ke pihak yang salah. Rumah tangga yang sama sudah satu dekade membayar listrik lewat formula penyesuaian otomatis. Air minum bisa meminjam mekanisme yang sama, dan jendela politiknya terbuka sekarang.
OJK Sudah Punya Rambu AI, Komdigi Belum
Perbankan sudah punya tata kelola AI dari OJK sejak April 2025. Payung nasional belum diteken, dan Komdigi menyerahkan aturan sektoral ke masing-masing lembaga. Utilitas publik seperti BUMD air, yang paling rentan salah pakai AI, justru berjalan tanpa rambu sama sekali. Sambil menunggu, ada tiga pertanyaan minimum yang bisa dipakai direktur untuk menilai vendor AI hari ini.
AI Bukan KPI
Kalimat “kita sekarang perusahaan AI first” terdengar modern sampai ia berubah menjadi ancaman halus: pakai AI, atau terlihat tertinggal.
Saya tidak sedang menulis dari posisi anti-AI. Itu terlalu mudah, dan menurut saya tidak akurat. AI bisa sangat berguna. Dalam penelitian NBER terhadap 5.179 agen layanan pelanggan, alat bantu percakapan berbasis AI menaikkan produktivitas rata-rata 14 persen, terutama untuk pekerja baru dan pekerja dengan keterampilan awal lebih rendah [1].
Jadi masalahnya bukan AI.
...
Pelajaran zenius untuk PDAM: Kenapa 'Merasa Sudah Bagus' Bisa Jadi Awal Kegagalan
Beberapa hari lalu saya menonton sebuah video yang membedah kegagalan Zenius. Bagi yang tidak mengikuti dunia edtech Indonesia, Zenius adalah startup pendidikan yang didirikan tahun 2004; visinya kuat (“to spark the love of learning in everyone everywhere”), pendanaannya besar (total US$40 juta dari North Star, Kinesys, Binex, dan MDI Venture), kepuasan penggunanya di atas 90%, dan pada puncaknya menjangkau 2 juta pengunjung website. Tahun 2017, Zenius menjadi startup Indonesia pertama yang masuk top 10 startup ranking.
...
Intisari Keputusan 2026: Dua Risiko Utilitas Air yang Naik Kelas Tahun Ini
Ada dua arus risiko yang sedang berpindah kategori di sektor air minum. Keamanan siber tidak lagi urusan firewall, melainkan kepatuhan infrastruktur vital dengan payung Perpres dan aturan BSSN. Kehilangan air tidak lagi KPI teknis, melainkan risiko keuangan yang stagnan satu dekade di kisaran 33 persen. Intisari ini merangkum keduanya untuk siapa pun yang menyiapkan bahan keputusan: apa yang berubah, apa yang diminta regulasi, dan tiga pertanyaan yang layak diajukan di rapat berikutnya.