Beberapa hari lalu saya menonton sebuah video yang membedah kegagalan Zenius. Bagi yang tidak mengikuti dunia edtech Indonesia, Zenius adalah startup pendidikan yang didirikan tahun 2004; visinya kuat (“to spark the love of learning in everyone everywhere”), pendanaannya besar (total US$40 juta dari North Star, Kinesys, Binex, dan MDI Venture), kepuasan penggunanya di atas 90%, dan pada puncaknya menjangkau 2 juta pengunjung website. Tahun 2017, Zenius menjadi startup Indonesia pertama yang masuk top 10 startup ranking.

Mereka tutup.

Bukan karena tidak ada dana. Bukan karena produknya jelek. Bukan karena tidak ada pelanggan. Mereka tutup karena gagal mengubah semua kehebatan itu menjadi bisnis yang bisa menghidupi dirinya sendiri.

Saya menonton video itu dan langsung teringat pada puluhan PDAM yang pernah saya amati selama bertahun-tahun bekerja di sektor utilitas air. Polanya persis sama; bukan di bisnis model, tapi di cara berpikir tentang “sudah cukup baik.”


Jebakan “Kita Sudah Implementasi, Kan?”

Di Bab 9 IT Governance Playbook, saya menulis tentang sebuah rapat Direksi fiktif; tapi polanya nyata. Kepala Divisi TI menyampaikan bahwa organisasi “sudah mengimplementasikan tata kelola TI”: sudah ada komite, sudah ada prosedur, sudah ada rapat rutin dengan unit bisnis.

Direktur Utama mengangguk, tetapi pertanyaan sesungguhnya belum terjawab: bagaimana organisasi tahu bahwa tata kelola itu sudah cukup baik?

Zenius juga “sudah melakukan semuanya.” Mereka punya konten berbasis konsep. Mereka punya platform online. Mereka mengakuisisi Primagama untuk kanal offline. Mereka menjual di Gramedia. Mereka menggratiskan pembelajaran saat COVID. Dari luar, semuanya terlihat hebat.

Tapi seperti PDAM yang mengaku “sudah ada IT Governance” tanpa pernah mengukur tingkat kematangannya, Zenius menjalankan banyak inisiatif tanpa satu pertanyaan paling mendasar: apakah ini menghasilkan bisnis yang berkelanjutan?


Apa yang Sebenarnya Terjadi: Gagal Mengukur Sebelum Menduplikasi

Video itu menyebut ada empat syarat bisnis bisa berkembang: (1) harus untung sekecil apa pun, (2) setelah untung baru menduplikasi, (3) dikelola manajemen profesional, (4) manajemen menjalankan sistem.

Sederhana. Tapi Zenius melanggar syarat pertama; dan justru agresif di syarat kedua. Mereka menduplikasi dulu: konten online, CD/DVD, franchise Primagama, distribusi Gramedia, blog, marketing agresif; semua dijalankan paralel sebelum model dasarnya benar-benar menghasilkan laba.

Ini familiar bagi siapa saja yang pernah melihat PDAM menjalankan banyak proyek TI sekaligus tanpa baseline yang jelas. Satu proyek CRM. Satu proyek mobile app. Satu proyek GIS. Satu proyek smart meter. Semua berjalan paralel. Semua punya vendor. Tapi tidak ada yang bisa menjawab: dari semua ini, mana yang sudah memberikan manfaat terukur?

Zenius punya 2 juta pengunjung. Tapi berapa persen yang membayar? Tidak cukup untuk menghidupi operasi.

PDAM punya 5 sistem baru. Tapi berapa yang dipakai? Berapa yang mengubah keputusan? Berapa yang menurunkan tingkat kehilangan air?


Jebakan yang Sama, Industri yang Berbeda

Yang menarik adalah paralel strukturalnya:

Pola Kegagalan Zenius PDAM (TI Governance)
Terlalu banyak inisiatif paralel Online, CD/DVD, franchise, Gramedia, blog CRM, GIS, mobile app, smart meter, ERP; semua sekaligus
Tidak ada baseline terukur Tidak ada metrik unit economics yang jadi acuan Tidak ada maturity assessment awal
“Merasa sudah cukup” Merasa sudah besar karena 2 juta pengunjung Merasa sudah comply karena ada SK dan komite
Gagal konversi nilai ke hasil 90% puas tapi tidak membayar Proyek selesai secara administratif tapi tidak dipakai
Obsolensi model lama tidak terdeteksi CD/DVD mati, pivot online terlambat Sistem legacy dibiarkan sampai tidak ada yang bisa memperbaiki

Intinya sama: banyak aktivitas, sedikit bukti.


Apa yang Seharusnya Dilakukan: Mulai dari Mengukur

Jika Zenius adalah klien konsultan TI Governance, pertanyaan pertama saya bukan “apa strategi monetisasi Anda?”; itu pertanyaan belakangan. Pertanyaan pertama adalah: di mana posisi Anda sekarang, dan apa buktinya?

Untuk PDAM, ini diterjemahkan menjadi maturity assessment: sebuah baseline terukur yang menunjukkan posisi organisasi hari ini; bukan berdasarkan opini, tapi berdasarkan bukti di 5-7 domain tata kelola.

Saya sudah menyediakan kuesioner self-assessment 25 pertanyaan sebagai bagian gratis dari IT Governance Playbook. Tapi untuk yang ingin lebih dalam, saya juga menyiapkan IT Governance Diagnostic Tool: 35 pertanyaan di 7 domain COBIT, termasuk procurement governance dan transformasi digital, lengkap dengan kalkulasi otomatis, radar chart, gap analysis, dan penyimpanan progres di browser. Alat ini berjalan langsung di web, sehingga bisa dipakai dalam rapat tanpa mengirim file bolak-balik.

Apa bedanya dengan toolkit gratis? Toolkit gratis memberi Anda pertanyaan. Diagnostic Tool memberi Anda peta. Dengan peta, Anda tahu harus mulai dari mana. Tanpa peta, Anda seperti Zenius; banyak bergerak, tapi tidak tahu arah.

IT Governance Playbook dan Diagnostic Tool tersedia di itgbook.fdiskandar.com/diagnostic/ .


Tiga Hal yang Bisa Dilakukan Minggu Depan

  1. Minta tim isi self-assessment. Toolkit 25 pertanyaan gratis sudah cukup untuk baseline awal. Syaratnya: diisi oleh minimal 3 orang dari fungsi berbeda (Direksi, TI, non-TI), dan setiap skor harus didukung bukti tertulis.

  2. Bandingkan persepsi. Jika skor dari Direksi berbeda jauh dengan skor dari tim TI; selamat, Anda baru saja menemukan masalah yang lebih penting dari semua proyek TI yang sedang berjalan: informasi tidak mengalir ke atas.

  3. Pilih 2 domain untuk 6 bulan ke depan. Jangan perbaiki semuanya sekaligus. Zenius mencoba melakukan semuanya dan tidak ada yang benar-benar selesai. PDAM yang bijak memilih 2 domain paling kritis dan menyelesaikannya sebelum pindah ke yang lain.


Pada akhirnya, Zenius mengingatkan kita pada satu hal: organisasi yang hebat bisa mati bukan karena diserang kompetitor, tapi karena tidak pernah jujur pada dirinya sendiri tentang di mana posisinya.

Tata kelola TI tidak dimulai dari dokumen tebal atau software mahal. Ia dimulai dari keberanian untuk mengukur; dan kejujuran untuk mengakui bahwa skor 2,1 bukanlah skor yang bisa dibanggakan. Tapi dari sanalah perbaikan dimulai.


Disclaimer: Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi manapun. Informasi yang disajikan bersifat edukatif dan tidak dimaksudkan sebagai nasihat profesional. Untuk keputusan strategis, konsultasikan dengan ahli yang berkompeten. Analisis Zenius berdasarkan informasi publik dari video YouTube Tom MC Ifle dan pemberitaan Tech in Asia. IT Governance Playbook dan Diagnostic Tool adalah proyek pribadi penulis.