Sains kognitif tentang bagaimana akal paling tajam memilih menjadi tumpul, dan bagaimana pembusukan sebuah negeri sebenarnya dimulai dari satu tanda tangan.
Lantai empat belas gedung kementerian itu sunyi pada pukul delapan malam. Hanya ada dengung pendingin udara, dan satu lampu meja yang menyala. Di bawah cahayanya, di atas meja kayu mahoni, sebuah dokumen tergeletak: empat puluh enam halaman, dijepit rapi, sudut-sudutnya mulai menekuk karena terlalu sering dibuka lalu ditutup kembali.
Sebuah laporan tinjauan tata kelola. Di dalamnya: deretan pengadaan yang gagal, anggaran yang sengaja dikaburkan, kejanggalan yang menguras kas negara miliaran rupiah. Bukti, halaman demi halaman, disusun oleh seseorang yang masih percaya bahwa bukti itu penting.
Tangan yang kini memegang pena di atas halaman terakhir bukan tangan orang bodoh.
Pemiliknya lulusan terbaik dari universitas mentereng, pemegang dua gelar pascasarjana. Ia bisa menjelaskan rasio makroekonomi tanpa membuka catatan, membaca neraca seperti orang membaca berita pagi. Otaknya tajam, presisi, terlatih bertahun-tahun. Dan malam itu, seluruh ketajaman itu ia gunakan untuk satu hal: menandatangani persetujuan penutupan kasus, lalu mendorong empat puluh enam halaman itu ke laci paling bawah, ke tempat di mana laporan-laporan semacamnya pergi untuk mati.
Pena terangkat. Selesai.
Sekarang tariklah mundur kameranya, dan tatap apa yang sebenarnya terjadi di dalam tempurung kepala itu. Sebab di sanalah seluruh kisah ini sungguh-sungguh berlangsung.
Psikolog kognitif Keith Stanovich punya nama untuk apa yang baru saja kita saksikan: dysrationalia, kapasitas intelektual tinggi yang gagal menghasilkan keputusan yang rasional. Tes kecerdasan, kata Stanovich, mengukur kecepatan mesin di kepala. Ia tidak menentukan ke mana kemudi diputar. Dan pada orang-orang yang duduk di kursi empuk kekuasaan, kecerdasan sering berhenti menjadi alat pencari kebenaran. Ia berubah menjadi pengacara. Pengacara yang lihai, disewa untuk satu tugas: membenarkan apa pun yang sudah diinginkan kliennya.
Lalu siapa klien di dalam kepala itu?
Namanya sistem ganjaran, dan ia bersemayam beberapa sentimeter di belakang dahi sang pejabat. Ahli saraf Kent Berridge menemukan sesuatu yang mengganggu tentang mesin ini: molekul yang mendorong kita menginginkan sesuatu ternyata terpisah dari molekul yang membuat kita menikmatinya. Keduanya bisa berpisah jalan. Seseorang bisa terus mengejar dengan rakus, makin liar, sementara di dalam ia sudah lama tidak merasakan apa-apa.
Itulah sebabnya mobil mewah ketiga di garasi tidak lagi terasa. Saldo dengan sembilan angka nol berubah menjadi sekadar angka. Jabatan mentereng di ibu kota menjelma garis dasar yang hambar. Para psikolog menyebut gejala ini hedonic treadmill, ban berjalan yang setiap pencapaiannya segera ia ubah menjadi biasa. Pejabat yang tangannya terus menjulur ke kas negara bukan sedang menikmati apa pun. Ia sedang berlari di atas ban berjalan yang kecepatannya hanya bisa naik, dan tidak punya tombol berhenti.
Tetapi ban berjalan saja tak menjelaskan penimbunan yang melampaui seluruh akal sehat, harta yang lebih banyak daripada yang bisa dihabiskan tujuh keturunan. Untuk itu, kita harus turun ke lapisan yang paling gelap.
Pada 1973, antropolog Ernest Becker menerbitkan sebuah buku yang setahun kemudian memenangi Pulitzer: The Denial of Death. Tesisnya sederhana dan mengerikan. Hampir seluruh yang manusia bangun, kekayaan, status, monumen, adalah mesin untuk menyangkal satu fakta yang tak tertanggungkan: bahwa kita akan mati dan menjadi tiada. Puluhan tahun kemudian, gagasan itu turun ke laboratorium. Tidak semua eksperimennya bertahan terhadap pengujian ulang, dan perdebatannya belum reda. Tetapi satu pola muncul cukup sering untuk membuat kita berhenti sejenak: ingatkan orang akan kematian, bahkan secara halus, dan banyak dari mereka menjadi lebih rakus pada harta, lebih melekat pada status, lebih keras membela kedudukannya. Tumpukan kekayaan dan proyek mercusuar itu adalah tembok yang sedang dibangun seseorang melawan kenyataan bahwa, pada akhirnya, namanya hanya akan terukir di batu nisan yang dingin.
Maka di balik meja mahoni itu, sesungguhnya, duduk seekor binatang yang ketakutan, menumpuk dunia agar merasa, sesaat dan palsu, bahwa ia tak akan pernah benar-benar lenyap.
Dan untuk menjaga ilusi itu tetap hidup, kecerdasan melakukan pengkhianatan terbesarnya.
Pertama, ia membutakan dirinya sendiri. Peneliti kognisi Dan Kahan menemukan paradoks yang seharusnya membuat kita semua waspada: dalam eksperimennya, orang yang paling cerdas secara numerik menjawab paling benar pada soal yang netral. Tetapi begitu jawaban yang benar mengancam keinginan atau identitas mereka, justru merekalah yang paling mungkin keliru. Mereka memakai seluruh daya kuda otaknya bukan untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk merakit pelarian yang lebih meyakinkan darinya. Kecerdasan tidak membebaskan dari bias. Ia mempersenjatainya.
Kedua, ia menciptakan kosakata baru. Psikolog Albert Bandura memetakan persis bagaimana nurani dijinakkan, satu kata demi satu kata. “Suap” diganti menjadi “biaya operasional tambahan”. “Kegagalan vendor” dibungkus jadi “penyesuaian termin proyek”. “Penggelapan” menjelma “efisiensi anggaran”. Ganti namanya, dan teriakan di dalam dada itu berhenti. Inilah yang oleh sebuah kitab tua disebut dengan tepat: manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. Ketika selera dinaikkan menjadi otoritas tertinggi, akal diturunkan pangkat dari hakim menjadi juru bicara, yang tugasnya semata membenarkan apa pun yang sudah diputuskan.
Lalu angka-angka di lembar laporan itu kehilangan wajah manusianya.
Mereka tidak lagi melihat keluarga yang harus merebus air keruh berulang kali karena anggaran air bersih menguap di tengah jalan. Mereka tidak mendengar pegawai rendahan yang haknya dipotong demi menambal defisit sistem yang digelapkan. Di ruang rapat berpendingin sentral, korban hanyalah baris-baris dalam spreadsheet, bisa diseleksi, bisa dihapus, dengan satu tekan tombol.
Dan inilah bagian yang membuat segalanya lebih buruk: otak yang sudah dibajak ini kita serahi kuasa. Psikolog Dacher Keltner menyebutnya paradoks kekuasaan. Manusia naik ke puncak lewat empati dan kepekaan sosial, lalu kekuasaan menggerus justru kualitas-kualitas itu. Dalam sebuah percobaan, sekadar membuat seseorang merasa berkuasa sudah cukup untuk meredupkan jaringan saraf yang membuat kita ikut merasakan penderitaan orang lain. Kekuasaan, secara harfiah, mempersulit otak untuk berempati. Rem dilonggarkan. Mata yang seharusnya melihat penderitaan justru meredup.
Satu otak cerdas yang membusuk adalah tragedi pribadi. Tetapi korupsi masif tidak lahir dari kebodohan massal, ia tumbuh dari gradien insentif yang dirancang oleh orang-orang pandai. Ilmuwan politik Bo Rothstein menunjukkan bahwa korupsi sistemik adalah sebuah keseimbangan: begitu ia melewati ambang tertentu, logikanya terbalik total, dan justru kejujuranlah yang menjadi pilihan bunuh diri. Orang jujur tidak dipuji. Ia disingkirkan, karena ia membahayakan kelancaran bisnis koleganya. Di banyak kantor di negeri ini, penyingkiran itu jarang dramatis. Ia berupa promosi yang tak kunjung datang, mutasi ke pos tanpa wewenang, dan nama yang diam-diam dilewati setiap kali ada peluang naik.
Dan di sinilah lelaki kedua dalam kisah ini muncul.
Sebab empat puluh enam halaman di dalam laci itu tidak menulis dirinya sendiri. Ada seseorang yang menyusunnya, staf yang masih percaya bukti itu penting, yang berani menaruh namanya di halaman pertama, yang tahu persis apa risikonya dan tetap mengajukannya. Dalam ekosistem yang terinfeksi, ia bukan pahlawan. Ia anomali. Gangguan. Sesuatu yang harus dinetralkan.
Di penghujung hari, staf itu merapikan mejanya. Ia menuruni tangga, bukan lift khusus pejabat, dan berjalan menuju halte bus di bawah rintik hujan. Tidak ada mobil dinas baru yang menunggunya. Tidak ada jaminan promosi tahun depan. Hanya jalanan basah, dan bus yang datang terlambat.
Menurut hitungan sistem yang baru saja kita bedah, ia kalah. Dan justru di situlah letak dakwaan yang paling telak: sistem itu dirancang sedemikian rupa agar orang seperti dia memang selalu kalah. Yang berikut ini bukan hadiah atas kekalahan itu, melainkan satu-satunya hal yang tidak bisa ikut disita oleh sistem.
Malam itu, di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, ia tidur nyenyak.
Bukan karena ia seorang santo. Ia tidur nyenyak karena ia tidak punya apa pun untuk dipertahankan: tidak ada tembok yang harus dijaga, tidak ada skenario yang harus dirajut sampai pagi, tidak ada nurani yang harus terus-menerus dibungkam agar diam. Ia, dalam arti yang paling sederhana, bebas.
Di saat yang sama, di lantai empat belas, sang pejabat cerdas masih terjaga. Matanya menatap langit-langit kamar mewahnya. Bukan, dan inilah bagian yang paling menyeramkan, bukan karena nuraninya menyiksanya. Nurani itu sudah lama ia bungkam, dan ia tidur cukup lelap di banyak malam yang lain. Ia terjaga karena ban berjalan itu tak pernah berhenti: selalu ada perolehan berikutnya yang harus dikejar, pembelaan berikutnya yang harus disusun, laci berikutnya yang harus diisi. Dan sekali lagi, seperti malam-malam sebelumnya, ia menyewa kembali kecerdasannya yang luar biasa itu, untuk membela kedunguan yang ia pilih sendiri.
Yang seorang tak memiliki apa-apa, dan tertidur.
Yang seorang memiliki segalanya, dan tak sanggup memejamkan mata.
Referensi
[1] Stanovich, K. E. “Rational and Irrational Thought: The Thinking That IQ Tests Miss”. Scientific American Mind, 2009. https://www.scientificamerican.com/article/rational-and-irrational-thought-the-thinking-that-iq-tests-miss/ .
[2] Berridge, K. C., Robinson, T. E., & Aldridge, J. W. “Dissecting components of reward: ’liking’, ‘wanting’, and learning”. Current Opinion in Pharmacology, 2009. https://doi.org/10.1016/j.coph.2008.12.014 .
[3] Becker, E. The Denial of Death (1973), dan program riset Terror Management Theory yang lahir darinya. Ernest Becker Foundation. https://ernestbecker.org/ .
[4] Kahan, D. M., et al. “Motivated Numeracy and Enlightened Self-Government”. Behavioural Public Policy, 2017. https://doi.org/10.1017/bpp.2016.2 .
[5] Bandura, A. “Moral Disengagement”. https://albertbandura.com/albert-bandura-moral-disengagement.html .
[6] Keltner, D. “The Power Paradox”. Greater Good Magazine, UC Berkeley. https://greatergood.berkeley.edu/article/item/power_paradox .
[7] Rothstein, B., & Uslaner, E. M. “All for All: Equality, Corruption, and Social Trust”. World Politics, 2005. https://doi.org/10.1353/wp.2006.0022 .
Catatan: dua tokoh dalam tulisan ini adalah arketipe, bukan individu atau institusi nyata. Tidak ada nama, kasus, atau dokumen sungguhan yang dirujuk.
“Disclaimer: Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis sebagai individu dan tidak mewakili sikap atau kebijakan dari institusi, perusahaan, atau organisasi mana pun yang berafiliasi dengan penulis. Konten disediakan untuk tujuan refleksi dan diskusi publik.”