Profesor yang Meramal Keruntuhan Dunia, lalu Menyuruh Kita Percaya pada Tuhan

Video ini diberi judul seolah cuma soal ramalan perang Jepang-Tiongkok. Nyatanya, dari seratus delapan menit percakapan, segmen itu cuma delapan menit. Sisanya adalah seorang analis lulusan Yale membedah sistem petrodolar, keruntuhan Zaman Perunggu, dan titik-titik rawan geopolitik dunia, sebelum akhirnya sampai pada satu jawaban yang tidak pernah ia hitung dengan model apa pun: percaya pada Tuhan, dan pulang ke keluarga.

14 September 2026, 22:15 WIB · 7 menit · 1449 kata · Ferli Deni Iskandar
Selang menyemburkan air deras sampai menggenang di tanah, sementara ember di sebelahnya berdiri kosong

Masker Basah Tidak Menyaring Abu Vulkanik. Begini yang Benar.

Membasahi masker atau kain tidak menambah kemampuannya menyaring abu vulkanik. Panduan resmi menyatakannya dengan jelas, tetapi nasihat itu tetap menyebar karena gampang dikerjakan dan terasa melindungi. Tulisan ini memilah nasihat mana yang bertahan setelah dicocokkan ke sumber aslinya, mana yang gugur, lalu berhenti agak lama di satu dampak yang nyaris tidak pernah masuk daftar panduan mana pun: hujan abu menaikkan permintaan air secara serentak, dan itulah yang duluan melumpuhkan pasokan, bukan abunya.

6 September 2026, 13:00 WIB · 11 menit · 2318 kata · Ferli Deni Iskandar

Yang Terjaga di Lantai Empat Belas

Sains kognitif tentang bagaimana akal paling tajam memilih menjadi tumpul, dan bagaimana pembusukan sebuah negeri sebenarnya dimulai dari satu tanda tangan. Lantai empat belas gedung kementerian itu sunyi pada pukul delapan malam. Hanya ada dengung pendingin udara, dan satu lampu meja yang menyala. Di bawah cahayanya, di atas meja kayu mahoni, sebuah dokumen tergeletak: empat puluh enam halaman, dijepit rapi, sudut-sudutnya mulai menekuk karena terlalu sering dibuka lalu ditutup kembali. ...

28 Juni 2026, 21:30 WIB · 8 menit · 1504 kata · Ferli Deni Iskandar

Dua Wajah May Day 2026: Antara Panggung Istana dan Suara yang Tak Diundang

Tanggal 1 Mei 2026, Jakarta punya dua panggung. Panggung pertama: Monas. Presiden Prabowo naik podium, menjanjikan rumah murah buat pekerja, cicilan 40 tahun, bunga 5 persen. Satuan tugas anti-PHK dibentuk. Goodie bags berisi beras, gula, minyak goreng dibagikan aparat ke ribuan buruh, sebagian menempuh tujuh jam perjalanan dari Jawa Tengah. Musik, senyum, dan spanduk dukungan menghiasi lapangan. Panggung kedua: depan gedung DPR. Ribuan buruh dari Aliansi Gebrak Buruh dan Rakyat berbaris tanpa goodie bags. Mereka menolak hadir di Monas. Mereka membawa sepuluh tuntutan, dari perlindungan pekerja perempuan sampai penghentian kriminalisasi aktivis. Panggung mereka bukan podium presiden, melainkan mikrofon vokalis The Brandals, Eka Annash: “Meski kita buruh, tapi pajak kitalah yang membiayai program-program mudarat pemerintah.” ...

3 Mei 2026, 21:30 WIB · 8 menit · 1647 kata · Ferli Deni Iskandar

Disillusionomics: Ketika Sistem Formal Gagal, Gen Z Malah Jadi Lebih Adaptif

Ada istilah baru yang mulai sering muncul di diskusi ekonomi: disillusionomics. Secara sederhana, istilah ini menggambarkan perilaku ekonomi generasi yang sudah tidak lagi percaya bahwa jalur formal bisa menjamin kehidupan yang layak. Bukan karena mereka tidak mau bekerja keras. Justru sebaliknya: mereka bekerja sangat keras, tetapi dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya. Saya ingin menelaah ini bukan dari sudut pandang moral, melainkan dari sudut pandang sistem. Angkanya Bicara Data BPS Agustus 2025 mencatat 2,3 juta orang usia 20-24 tahun masih menganggur. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Februari 2026 berada di 4,68 persen, setara 7,24 juta orang. Sementara itu, rata-rata upah buruh Indonesia sekitar Rp3,29 juta per bulan. ...

3 Mei 2026, 21:00 WIB · 4 menit · 828 kata · Ferli Deni Iskandar