Ringkasan cepat
- Judul video ‘Professor Jiang Predicts: Japan Is About To Go To War’ menyesatkan. Segmen soal Jepang cuma sekitar delapan menit dari seratus delapan menit. Sisanya membedah sistem petrodolar, analogi keruntuhan Zaman Perunggu, dan beberapa titik rawan geopolitik lain, sebelum berbelok ke arah yang jauh lebih personal.
- Ketika ditanya apa saran untuk orang biasa yang cemas menonton berita, jawaban Profesor Jiang bukan strategi lindung nilai atau rencana darurat, melainkan: percaya pada Tuhan, dan fokus pada keluarga.
- Ini datang dari orang yang percaya penuh pada meritokrasi dan akal sehat, sampai dua peristiwa politik meruntuhkan keyakinan itu, dan yang menggantikannya bukan model baru yang lebih canggih, melainkan sesuatu yang dari awal tidak pernah butuh dibuktikan secara rasional.
- Ramalan spesifiknya soal perang atau serangan tertentu tetap patut didekati dengan jarak kritis. Ini analisis satu orang di sebuah podcast, bukan konsensus. Tapi titik baliknya di penghujung wawancara tetap berdiri sendiri, terlepas dari benar-tidaknya ramalan itu.
“Ada banyak orang yang tidak suka dengan apa yang saya katakan. Saya salah satu tokoh paling polarisasi di dunia saat ini.” Begitu kalimat pertama yang keluar dari mulut Profesor Jiang Xueqin, lulusan Yale, di detik-detik awal sebuah wawancara berdurasi seratus delapan menit di podcast The Diary Of A CEO milik Steven Bartlett.
Videonya diberi judul “Professor Jiang Predicts: Japan Is About To Go To War”, Profesor Jiang Meramalkan Jepang Akan Berperang. Saya menontonnya penuh, dan menurut saya judul itu salah arah. Bukan salah fakta, sebab segmen soal Jepang memang ada di sana. Tapi salah menyampaikan tekanan. Dari seratus delapan menit percakapan, bagian yang membahas kemungkinan perang Tiongkok-Jepang cuma memakan sekitar delapan menit, kurang dari sepersepuluh keseluruhan isi. Deskripsi resminya sendiri jauh lebih luas: keruntuhan sistem petrodolar, analogi Zaman Perunggu, migrasi massal, dan sebuah janji di akhir, kerangka untuk menemukan makna di tengah kekacauan global.
Saya tertarik justru pada bagian yang tidak masuk judul itu.
Bukan tentang Jepang
Untuk memahami kenapa Profesor Jiang berpikir Tiongkok dan Jepang bisa berperang, saya harus mengikuti seluruh alur berpikirnya dari awal, dan alur itu dimulai jauh dari Asia Timur.
Jiang membuka dengan sistem petrodolar. Ringkasnya begini: setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat membiayai pembangunan kembali Eropa dan Jepang lewat pinjaman dolar. Tahun 1971, Presiden Richard Nixon melepas patokan dolar terhadap emas, keputusan yang di kalangan ekonom disebut Nixon shock. Supaya dolar tetap bernilai tanpa jaminan emas, tiga kesepakatan besar disusun setelahnya: Arab Saudi setuju menjual minyaknya hanya dalam dolar, Tiongkok mematok ekspor manufakturnya ke dolar, dan pertengahan 1980-an Jepang membelikan tabungannya ke obligasi pemerintah Amerika. Sistem inilah yang menurutnya kini mulai retak.
Argumennya lalu melompat ke analogi yang lebih tua: keruntuhan Zaman Perunggu, sekitar 1200 sampai 1150 sebelum Masehi, ketika hampir seluruh kota besar di Mediterania Timur runtuh dalam rentang lima puluh tahun, banyak di antaranya tidak pernah dibangun kembali. Bartlett sempat membuka definisi akademisnya di layar untuk memeriksa ulang klaim itu, dan keduanya sepakat pada satu pola: dunia yang sangat terhubung, lalu ketimpangan dan utang menumpuk di baliknya, lalu sistem itu tidak melemah pelan-pelan, tapi ambruk serentak.
Baru setelah kerangka besar itu berdiri, pembahasannya turun ke kasus per kasus. Milisi Houthi di Yaman yang menguasai Selat Bab-el-Mandeb, titik cekik jalur pelayaran Laut Merah. Kenapa perang hari ini, menurutnya, berbeda dari invasi Irak 2003: dulu Amerika menghadapi satu rezim terpusat yang gampang dipenggal kepemimpinannya, sekarang menghadapi empat kelompok yang terdesentralisasi tapi saling terkoordinasi. Lalu argumen geografis soal Tiongkok dan Jepang, kekuatan darat yang bisa mandiri melawan kekuatan laut yang bergantung penuh pada impor sumber daya, sejarah yang menurutnya membentuk watak militeristik Jepang jauh sebelum abad kedua puluh.
Saya berhenti sejenak di sini untuk jujur soal batas tulisan ini. Saya tidak memverifikasi ulang keakuratan historis Zaman Perunggu atau rincian sistem petrodolar itu ke sumber sejarawan primer. Yang saya kutip adalah interpretasi Profesor Jiang sendiri dalam sebuah wawancara populer, bukan makalah akademis berwasit. Susunannya meyakinkan, dan sepanjang durasi itu saya beberapa kali berpikir, ini analisis yang serius, bukan sekadar spekulasi kedai kopi. Tapi serius tidak sama dengan terverifikasi, dan pembaca berhak tahu bedanya.
Sejumlah ramalan spesifik lain juga dilontarkan: serangan siber ke server data finansial Amerika yang disebutnya “9/11 finansial”, kemungkinan pengepungan New York City, Rusia menyerbu negara-negara Baltik, bahkan disebut sambil lalu bahwa Messi bisa jadi presiden Argentina. Ini semua patut didekati dengan jarak yang sama seperti ramalan siapa pun di sebuah podcast: menarik untuk dipikirkan, tidak layak dijadikan dasar keputusan apa pun. Perkara ramalannya meleset atau tepat, itu urusan tahun-tahun mendatang. Yang menarik perhatian saya bukan di situ.
Titik yang berbelok
Sekitar menit ke-95, setelah hampir dua jam membangun kerangka kolapsnya peradaban, Bartlett bertanya hal yang paling wajar ditanyakan siapa pun yang sedang menonton dari sofa rumah: kebanyakan dari kita tidak berkecimpung di politik, lalu bagaimana orang biasa menyikapi semua ini?
Saya menduga jawabannya akan berupa saran praktis. Diversifikasi aset. Siapkan cadangan logistik. Pantau berita dari sumber tepercaya. Sesuatu yang bisa ditulis jadi daftar.
Jawaban Profesor Jiang justru begini: “Saran terbaik yang bisa saya berikan untuk orang biasa adalah percayalah pada Tuhan.” Lanjutannya: pendidikan terbaik di dunia, gelar Yale yang dibanggakannya sepanjang wawancara, justru mengajarkan bahwa dunia ini murni materi dan Tuhan tidak ada. Akibatnya, di usia dua puluhan, tiga puluhan, hingga empat puluhan, hidupnya penuh kemarahan, depresi, dan frustrasi yang dalam, akunya sendiri. Sebab kalau Tuhan tidak ada, tidak ada tatanan atau struktur di balik kekacauan, dan tidak mungkin ada harapan dalam kekacauan murni. Yang membalik itu, katanya, bukan riset baru atau bacaan filsafat, melainkan menikah dengan istrinya dan memiliki tiga anak. “Percayalah pada Tuhan, dan fokuslah pada keluarga. Setelah itu, semua akan baik-baik saja.”
Ada godaan untuk membaca ini sebagai jalan pintas, jawaban orang yang kehabisan analisis lalu lari ke sesuatu yang tak terbantahkan karena memang tak perlu dibuktikan. Saya sempat berpikir begitu. Tapi semakin saya renungkan, semakin saya sadar itu justru salah baca. Seluruh kerangka yang dibangunnya sepanjang satu setengah jam sebelumnya membahas hal-hal yang berada di luar kendali orang biasa: kebijakan bank sentral, aliansi militer, jalur pelayaran di seberang dunia. Kalau jawabannya berupa strategi baru untuk mengendalikan hal-hal itu, jawaban itu bohong, karena orang biasa memang tidak pernah dan tidak akan pernah memegang kendali atas hal-hal itu. Jawaban yang jujur justru harus berpindah ke wilayah yang benar-benar bisa dipegang seseorang: keyakinan, dan orang-orang yang dicintainya.
Anak sebagai jawaban, bukan beban
Di penghujung wawancara, pembahasannya bergeser lagi, kali ini ke pertanyaan tentang apa yang memberi Jiang harapan. Jawabannya singkat: anak-anaknya. “Kalau saya tidak punya anak, saya rasa saya tidak akan sesukses ini, sebab saya tidak akan punya banyak tujuan dan makna dalam hidup saya.” Satu tambahan lagi terasa jujur secara tidak nyaman: seandainya ketenaran datang lebih dulu tanpa anak-anak memberinya jangkar, ia yakin dirinya akan cepat korup, mengejar ketenaran dan uang sebanyak mungkin selagi masih ada yang mendengarkan.
Jiang bercerita tentang putranya, Chris, yang di usia dua tahun pernah bilang ke orang tuanya, “Aku dari dunia lain, aku alien yang sedang berkunjung ke tempat kalian.” Jiang dan istrinya tidak kaget mendengarnya. Mereka menjawab kira-kira begini: kami tahu, kami tahu kamu datang untuk mengalami sisi manusia, dengan segala cacat dan masalahnya, dan kami akan mendukung apa pun misimu, tapi kami tidak akan pernah bisa, dan tidak akan pernah mau, mengendalikanmu. Cinta, katanya, adalah soal percaya dan membebaskan, bukan mengatur.
Penutupnya satu kalimat yang menurut saya jadi ringkasan paling jujur dari keseluruhan dua jam itu: “Kalau kita terlalu fokus pada kecerdasan buatan, itu mengalihkan kita dari misi sejati kita, yaitu pertumbuhan spiritual. Misi sejati kita adalah pertumbuhan spiritual.” Podcast ini sendiri punya tradisi penutup, tamu sebelumnya meninggalkan pertanyaan untuk tamu berikutnya tanpa tahu siapa yang akan menjawabnya. Pertanyaan yang diwariskan untuk Jiang: tantangan terbesarmu apa, dan bagaimana kamu berusaha mengatasinya? Jawabnya: “Tantangan terbesar saya adalah rasa takut, keraguan, kelumpuhan saya sendiri. Perjuangan tetap saya adalah menjaga keyakinan pada Tuhan, menjaga keyakinan pada keluarga saya, menjaga keyakinan pada tujuan saya.”
Kenapa ini bukan cuma soal dia
Saya bukan penonton yang datang untuk mencari pembenaran agama dari seorang analis geopolitik. Saya tertarik pada video ini karena arah baliknya, bukan karena isinya menegaskan sesuatu yang sudah saya yakini sebelumnya.
Yang membuat momen itu berbobot, menurut saya, adalah siapa yang mengucapkannya. Ini bukan keluar dari orang yang sejak awal memang condong pada keyakinan dan menolak berpikir sistematis. Ini keluar dari orang yang menghabiskan satu setengah jam membuktikan betapa jauh nalarnya bisa bekerja secara sistematis, sampai memetakan pergerakan lempeng geopolitik dunia lewat sejarah dan pola. Batas itu tercapai bukan karena malas berpikir, tapi karena berpikir sejauh-jauhnya, sampai menabrak sesuatu yang model dan data tidak bisa jangkau: bagaimana seseorang tetap waras dan berbuat baik ketika hal-hal besar di luar kendalinya mungkin saja runtuh.
Saya juga mengenali polanya secara pribadi. Bertahun-tahun grup pesan keluarga dan kantor saya dipenuhi tautan berita yang menjanjikan resesi, perang, atau bencana berikutnya. Sebagian benar, kebanyakan berlebihan, dan hampir semuanya membuat orang yang membacanya merasa kecil dan tak berdaya. Di titik itu, dua pertanyaan yang lebih berguna daripada terus menelusuri berita adalah: apa yang sungguh saya kendalikan hari ini, dan siapa di dekat saya yang butuh perhatian saya sekarang, bukan nanti setelah dunia terasa lebih aman. Jawaban Jiang menegaskan sesuatu yang sebetulnya sudah lama dikenal manusia dari berbagai tradisi dan zaman, tapi jarang terdengar meyakinkan kalau datang dari orang yang biasanya bicara soal kepastian dan model.
Besok, ketika grup pesan Anda ramai membahas ramalan perang atau resesi berikutnya, coba satu hal sebelum ikut meneruskannya: taruh dulu ponselnya, dan tanya siapa di dekat Anda yang hari ini butuh didengar, bukan besok setelah kabar buruknya terkonfirmasi atau terbantahkan.
Penafian: Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili posisi resmi institusi mana pun. Kutipan dari video diterjemahkan bebas dari transkrip bahasa Inggris untuk kebutuhan tulisan ini; makna intinya dijaga, bukan diterjemahkan kata demi kata.