Smart Meter dan Jebakan Organisasi: Mengapa Teknologi Saja Tak Menurunkan NRW
Bayangkan skenario ini. Sebuah PDAM membeli 5.000 smart meter. Nilai kontrak: Rp 2,5 miliar. Pemasok memasang, mengonfigurasi dasbor, memberikan pelatihan dua hari. Manajemen puas. Dasbor menyala: grafik warna-warni, garis tren, peta tekanan. “Kami sekarang 4.0,” kata Direktur Utama di rapat koordinasi dengan Bupati. Enam bulan kemudian: Dasbor masih menyala. Tidak ada yang membukanya. smart meter mengirim data setiap 15 menit. 5.000 × 96 pembacaan/hari = 480.000 titik data per hari. Tidak ada yang menganalisis. Alarm kebocoran berbunyi 47 kali di minggu pertama. Operator kewalahan. Alarm dimatikan. Data tekanan menunjukkan anomali di Zona C. Tidak ada yang menghubungkan dengan laporan warga tentang air keruh. Laporan NRW triwulan tetap dibuat manual dari Excel, seperti biasa. PDAM ini tidak sendirian. Ini pola. ...