Bab 1: Pendahuluan dan Konteks Makro Pembangunan

1.1 Urgensi Ketahanan Air dalam Visi Indonesia Emas 2045

Dalam perjalanan menuju Visi Indonesia Emas 2045, efisiensi pengelolaan sumber daya air telah bertransformasi dari sekadar isu operasional teknis menjadi pilar strategis ketahanan nasional. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 dan dokumen teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 menempatkan produktivitas total faktor (Total Factor Productivity) sebagai jantung dari agenda pembangunan ekonomi. Dalam konteks ini, tingginya angka Non-Revenue Water (NRW) atau Air Tak Berekening (ATR) di Indonesia bukan lagi dipandang semata sebagai kerugian kas perusahaan daerah, melainkan sebagai kebocoran aset negara yang menghambat pertumbuhan ekonomi, menurunkan kualitas hidup masyarakat, dan mengancam keberlanjutan lingkungan.

Paradoks pengelolaan air di Indonesia terlihat nyata ketika negara dengan kekayaan hidrologis yang melimpah ini masih bergulat dengan inefisiensi distribusi yang parah. Data kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Air Minum menunjukkan bahwa rata-rata nasional NRW masih stagnan di angka yang mengkhawatirkan, seringkali berkisar antara 30% hingga di atas 40% di berbagai daerah, jauh melampaui standar toleransi nasional sebesar 20% yang ditetapkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Implikasi dari inefisiensi ini sangat luas: jutaan meter kubik air yang telah diproses dengan biaya energi dan bahan kimia yang tinggi terbuang percuma ke dalam tanah atau dikonsumsi tanpa memberikan kontribusi balik bagi pemeliharaan sistem.

1.2 Dampak Ekonomi dan Beban Fiskal

Analisis ekonomi makro menunjukkan bahwa kerugian akibat NRW menciptakan beban ganda bagi perekonomian Indonesia. Pertama, direct financial loss yang diderita oleh PDAM mengurangi kapasitas fiskal mereka untuk melakukan investasi mandiri. Estimasi global menyebutkan kerugian akibat NRW mencapai US$14 miliar per tahun, dan Indonesia menyumbang porsi signifikan di Asia Tenggara dengan kerugian domestik yang ditaksir mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya. Kasus di DKI Jakarta saja, kerugian akibat kebocoran pipa diperkirakan mencapai Rp 1,4 triliun hingga Rp 2,5 triliun per tahun, sebuah angka yang setara dengan anggaran pembangunan infrastruktur dasar yang masif.

Kedua, opportunity cost atau biaya peluang yang hilang. Setiap liter air yang hilang adalah liter air yang gagal didistribusikan kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang belum terlayani. Bappenas mencatat bahwa untuk mencapai target 100% akses air minum aman pada tahun 2030 sesuai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), Indonesia membutuhkan investasi yang sangat besar. Penurunan NRW menawarkan jalur investasi yang lebih efisien dibandingkan pembangunan infrastruktur baru; menyelamatkan air yang bocor jauh lebih murah secara marjinal dibandingkan membangun instalasi pengolahan air (IPA) baru beserta bangunan penyadap (intake) yang kompleks.

1.3 Penyelarasan Kebijakan Nasional

Pemerintah Indonesia, melalui sinergi antara Bappenas, Kementerian PUPR, dan Kementerian Keuangan, telah meluncurkan berbagai inisiatif strategis. Dokumen National Urban Water Supply Project (NUWSP) dan program Hibah Air Minum Berbasis Kinerja (PBG) menjadi instrumen kebijakan utama yang dirancang untuk mengubah perilaku operator air minum dari pola pikir “konstruksi fisik” menjadi “optimalisasi aset”. Kebijakan ini juga diperkuat dengan regulasi teknis yang ketat, seperti Peraturan Menteri PUPR Nomor 29 Tahun 2020 yang mewajibkan analisis kelayakan teknis penurunan NRW dalam setiap proposal investasi SPAM.

Laporan ini akan mengeksplorasi secara mendalam anatomi permasalahan NRW di Indonesia, mulai dari aspek teknis mendasar, kerangka regulasi, mekanisme pendanaan inovatif, hingga studi kasus implementasi di berbagai daerah yang mencerminkan keberhasilan maupun tantangan yang masih tersisa.


Bab 2: Anatomi dan Diagnosa NRW di Indonesia

2.1 Definisi dan Standar Neraca Air

Untuk memahami kompleksitas NRW, Indonesia mengadopsi standar internasional yang ditetapkan oleh International Water Association (IWA). NRW didefinisikan sebagai selisih antara volume air yang masuk ke sistem distribusi (System Input Volume) dengan volume air yang dikonsumsi dan ditagihkan secara resmi (Billed Authorized Consumption). Komponen ini kemudian dibedah menjadi kehilangan fisik (real losses) dan kehilangan komersial/non-fisik (apparent losses).

Pemahaman yang presisi mengenai komponen ini krusial karena strategi penanganannya berbeda secara diametral. Kehilangan fisik membutuhkan intervensi teknis sipil dan hidrolika, sementara kehilangan komersial menuntut perbaikan manajemen data, akurasi meter, dan penegakan hukum.

Tabel 2.1 Komponen Neraca Air dan Manifestasinya di Indonesia

Komponen Neraca Air Definisi & Elemen Manifestasi Permasalahan di Lapangan
Volume Input Sistem Total air yang diproduksi dan diinjeksikan ke jaringan. Seringkali tidak akurat karena ketiadaan atau kerusakan Master Meter di IPA, menyebabkan perhitungan NRW menjadi bias sejak awal.
Konsumsi Resmi Berekening Air yang terjual dan dibayar pelanggan. Basis pendapatan PDAM. Rendahnya angka ini sering disebabkan oleh meter pelanggan yang under-register (mencatat lebih rendah dari aktual).
Konsumsi Resmi Tak Berekening Air legal yang tidak ditagih (gratis). Pemakaian untuk pemadam kebakaran, pembersihan pipa (flushing), taman kota, dan fasilitas sosial/masjid. Seringkali tidak terukur (unmetered) sehingga menjadi “kambing hitam” tingginya NRW.
Kehilangan Komersial (Non-Fisik) Konsumsi Ilegal & Ketidakakuratan Meter. Pencurian air (bypass), sambungan liar di kawasan kumuh, manipulasi pembacaan meter oleh oknum, dan kesalahan administrasi data tagihan.
Kehilangan Fisik (Real Losses) Kebocoran Pipa & Luapan Reservoir. Pipa tua peninggalan kolonial (zaman Belanda) di kota besar seperti Jakarta & Surabaya, korosi, pergerakan tanah, dan kualitas sambungan (joint) yang buruk.

2.2 Dominasi Kehilangan Fisik vs. Komersial

Meskipun bervariasi antar daerah, data agregat menunjukkan bahwa kehilangan fisik umumnya mendominasi struktur NRW di Indonesia. Studi di berbagai PDAM seperti PDAM Tirta Moedal Semarang dan PDAM Palangka Raya menunjukkan bahwa kebocoran fisik pada pipa distribusi utama dan pipa dinas (service pipe) menyumbang porsi terbesar, seringkali mencapai 60-70% dari total kehilangan. Hal ini diperburuk oleh usia jaringan perpipaan yang sudah tua dan minimnya manajemen tekanan (pressure management) yang memadai.

Namun, di daerah urban dengan densitas tinggi seperti DKI Jakarta dan sebagian Surabaya, kehilangan komersial akibat sambungan ilegal dan meter yang usang memiliki kontribusi yang tidak bisa diabaikan. Di Jakarta, misalnya, temuan BPK mengenai kerugian Rp 1,4 triliun menyoroti inefisiensi yang mencakup aspek kontraktual dan manajerial, bukan hanya pipa bocor.

2.3 Indikator Kinerja: Infrastructure Leakage Index (ILI)

Dalam evaluasi teknis yang lebih canggih, persentase NRW (%) seringkali dianggap kurang representatif untuk membandingkan kinerja antar utilitas dengan karakteristik konsumsi yang berbeda. Oleh karena itu, penggunaan Infrastructure Leakage Index (ILI) mulai didorong. ILI mengukur rasio antara kehilangan fisik aktual (Current Annual Real Losses) dengan kehilangan fisik tak terhindarkan (Unavoidable Annual Real Losses).

  • Kondisi Indonesia: Banyak PDAM di Indonesia memiliki skor ILI yang sangat tinggi (buruk), seringkali di atas angka 10 atau 20, yang mengindikasikan bahwa sistem beroperasi jauh di bawah efisiensi teknis yang mungkin dicapai. PDAM dengan ILI tinggi menunjukkan adanya potensi besar untuk pengurangan kebocoran melalui manajemen tekanan aktif dan perbaikan infrastruktur.

Bab 3: Kerangka Regulasi dan Kebijakan Nasional

3.1 Arah Kebijakan RPJMN 2025-2029

Rancangan Teknokratik RPJMN 2025-2029 menetapkan target ambisius untuk sektor air minum sebagai bagian dari infrastruktur dasar pendukung pertumbuhan ekonomi 6-7%. Pemerintah menyadari bahwa target 100% akses air minum aman tidak akan tercapai hanya dengan membangun IPA baru jika tingkat kebocoran tidak ditekan.

  • Integrasi Hulu-Hilir: Kebijakan ini menekankan pada pendekatan holistik, di mana konservasi air baku di hulu harus diimbangi dengan efisiensi distribusi di hilir.
  • Target Spesifik: Penurunan NRW menjadi salah satu Indikator Kinerja Utama (IKU) dalam matriks pembangunan infrastruktur permukiman, yang dikaitkan langsung dengan pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) di daerah.

3.2 Evolusi Regulasi: Dari Permen 21/2009 ke Permen 29/2020

Pergeseran paradigma regulasi terlihat jelas dalam perubahan Peraturan Menteri PUPR. Permen PUPR Nomor 21/PRT/M/2009 yang lama telah dicabut dan digantikan oleh Permen PUPR Nomor 29 Tahun 2020. Regulasi baru ini memberikan kerangka kerja yang lebih ketat dan komprehensif bagi investasi SPAM.

  • Persyaratan Kelayakan: Permen 29/2020 mewajibkan dokumen studi kelayakan (Feasibility Study) untuk secara eksplisit mencantumkan analisis kondisi kebocoran air eksisting dan strategi penurunannya. Investasi tidak akan mendapatkan rekomendasi teknis jika tidak memuat rencana mitigasi NRW yang kredibel.
  • Kesiapan Teknis: Regulasi ini juga menuntut kesiapan perizinan (misalnya izin gali untuk perbaikan pipa) dan kepastian lahan, yang sering menjadi hambatan utama proyek rehabilitasi pipa di perkotaan.

3.3 Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM)

Inisiatif RPAM (Water Safety Plan) yang diadopsi dari WHO telah diintegrasikan ke dalam sistem manajemen PDAM. RPAM memandang NRW bukan hanya masalah kuantitas, tetapi juga kualitas. Pipa yang bocor saat tekanan air turun (atau mati) berpotensi menghisap air tanah yang terkontaminasi bakteri tinja atau limbah (back-siphonage). Oleh karena itu, dokumen RPAM mewajibkan PDAM untuk melakukan pengendalian kebocoran sebagai langkah preventif menjaga kualitas air “aman” hingga ke kran pelanggan.


Bab 4: Mekanisme Pendanaan dan Insentif Berbasis Kinerja

Salah satu tantangan terbesar dalam penurunan NRW adalah kebutuhan investasi awal (Capex) yang besar untuk teknologi dan rehabilitasi fisik. Pemerintah Indonesia telah mengembangkan berbagai instrumen pendanaan untuk mengatasi hambatan ini.

4.1 National Urban Water Supply Project (NUWSP)

Didukung oleh Bank Dunia, NUWSP adalah program andalan senilai USD 603 juta yang bertujuan meningkatkan kinerja operasional PDAM di wilayah perkotaan.

  • Komponen NRW: NUWSP menyediakan dana pendamping (matching grant) dan bantuan teknis untuk proyek-proyek penurunan NRW, termasuk pembentukan District Meter Area (DMA) dan efisiensi energi.
  • Bantuan Teknis: Program ini membantu PDAM menyusun dokumen perencanaan teknis yang memenuhi standar internasional, sehingga proyek penurunan NRW menjadi bankable dan efektif secara teknis.

4.2 Hibah Air Minum Berbasis Kinerja (PBG)

Program Hibah Air Minum Berbasis Kinerja (HAMBK) atau Performance Based Grant merupakan inovasi mekanisme fiskal yang revolusioner. Berbeda dengan hibah infrastruktur fisik biasa, program ini menggunakan pendekatan output-based.

  • Prinsip Kerja: Pemerintah Daerah (Pemda) atau PDAM harus menalangi biaya investasi (pre-financing) terlebih dahulu dari APBD atau kas internal untuk melaksanakan program penurunan NRW.
  • Indikator Kinerja: Dana hibah dari pemerintah pusat (yang bersumber dari pinjaman/hibah luar negeri seperti KIAT Australia atau Bank Dunia) hanya akan dicairkan jika target kinerja tercapai. Indikator kinerja tersebut meliputi: penurunan persentase NRW, peningkatan kontinuitas aliran (jam layanan), peningkatan tekanan air, dan perbaikan kualitas air.
  • Proses Verifikasi Ketat: Pencairan dana didasarkan pada hasil verifikasi yang dilakukan oleh BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan). Verifikasi mencakup pemeriksaan lapangan terhadap baseline dan endline kinerja. Jika target tidak tercapai, uang tidak cair. Mekanisme ini memaksa PDAM untuk bekerja secara efektif dan akuntabel.
  • Penerima Manfaat: Program ini tidak hanya menyasar kota besar, tetapi juga daerah pedesaan melalui skema Hibah Air Minum Perdesaan, meskipun fokus utamanya tetap pada efisiensi sistem perkotaan yang kompleks.

4.3 Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU)

Mengingat keterbatasan dana publik, skema KPBU (PPP) didorong untuk proyek penurunan NRW, khususnya di kota-kota besar. Buku PPP Bappenas mencatat berbagai peluang investasi di sektor ini. Model yang sering digunakan adalah Performance Based Contract (PBC), di mana pihak swasta berinvestasi untuk menurunkan NRW dan mendapatkan pengembalian investasi dari porsi peningkatan pendapatan PDAM akibat air yang berhasil diselamatkan. Namun, skema ini memerlukan data dasar yang sangat akurat untuk menghindari sengketa di kemudian hari.


Bab 5: Strategi Teknis dan Operasional Penurunan NRW

Penurunan NRW bukanlah “ilmu sihir”, melainkan serangkaian langkah teknis sistematis yang harus dilakukan dengan disiplin tinggi.

5.1 Pembentukan District Meter Area (DMA)

Strategi global yang menjadi standar emas di Indonesia adalah pembentukan DMA. DMA adalah teknik membagi jaringan distribusi yang besar dan kompleks menjadi zona-zona hidrolis yang lebih kecil dan terisolasi (biasanya 500-2.000 pelanggan).

  • Fungsi: Setiap DMA dilengkapi dengan meter induk (inlet meter) yang mencatat air masuk. Dengan membandingkan volume air masuk dan volume air tercatat di meter pelanggan di dalam zona tersebut, PDAM dapat menghitung NRW spesifik zona tersebut.
  • Analisis Aliran Malam (MNF): Keunggulan utama DMA adalah kemampuan melakukan analisis Minimum Night Flow (MNF). Pada pukul 02.00-04.00 pagi, konsumsi pelanggan domestik diasumsikan mendekati nol. Jika meter induk DMA masih mencatat aliran yang tinggi, hampir dapat dipastikan terjadi kebocoran fisik di dalam zona tersebut.
  • Implementasi: PDAM Malang, PDAM Palangka Raya, dan PDAM Gorontalo telah berhasil menggunakan metode ini untuk melokalisir kebocoran dan memprioritaskan perbaikan.

5.2 Manajemen Tekanan (Pressure Management)

Tekanan air adalah pedang bermata dua: diperlukan untuk mengalirkan air ke pelanggan, tetapi tekanan berlebih adalah penyebab utama pecahnya pipa dan meningkatnya volume kebocoran.

  • Hubungan Tekanan dan Kebocoran: Laju kebocoran berbanding lurus dengan tekanan. Mengurangi tekanan sebesar 10% dapat mengurangi volume kebocoran hingga lebih dari 10% (tergantung jenis material pipa).
  • Solusi: Pemasangan Pressure Reducing Valve (PRV) di pintu masuk DMA memungkinkan PDAM mengatur tekanan agar stabil. PRV dapat disetel untuk menurunkan tekanan pada malam hari saat pemakaian rendah (dan tekanan sistem biasanya melonjak), sehingga mencegah pipa pecah. Studi di PDAM Gianyar membuktikan efektivitas metode ini.

5.3 Pengendalian Kebocoran Aktif (Active Leakage Control - ALC)

Berubah dari reaktif (menunggu laporan air mati dari warga) menjadi proaktif (mencari kebocoran yang tidak muncul ke permukaan).

  • Teknologi: Tim ALC menggunakan peralatan akustik seperti Ground Microphone, Listening Stick, dan Leak Noise Correlator untuk “mendengarkan” suara desisan air yang bocor di dalam tanah.
  • Step Test: Metode menutup katup isolasi secara bertahap di dalam DMA pada malam hari untuk mempersempit area pencarian kebocoran. Metode ini sangat efektif namun membutuhkan jaringan katup yang berfungsi baik.

5.4 Rehabilitasi Meter Pelanggan

Untuk menangani kehilangan komersial, program penggantian meter air (meter replacement) menjadi prioritas. Meter air mekanis cenderung melambat seiring usia, merugikan PDAM.

  • Kebijakan: Banyak PDAM kini menerapkan kebijakan penggantian meter berkala (misal setiap 5 tahun) untuk menjaga akurasi. PDAM Solo, misalnya, menargetkan penggantian ribuan meter tua untuk menekan kehilangan komersial.

Bab 6: Transformasi Digital dan Teknologi Cerdas (Smart Water)

Revolusi Industri 4.0 membawa angin segar bagi upaya penurunan NRW melalui digitalisasi dan otomasi.

6.1 Smart Water Meter dan IoT

Adopsi meter air cerdas (Smart Meter) yang terhubung dengan Internet of Things (IoT) mulai masif dilakukan, terutama di kota metropolitan.

  • Teknologi: Menggunakan jaringan komunikasi jarak jauh seperti LoRaWAN atau NB-IoT, meter ini mengirimkan data pemakaian secara real-time ke server PDAM.
  • Manfaat NRW:
    • Mendeteksi kebocoran di sisi pelanggan (misal: aliran terus menerus selama 24 jam).
    • Menghilangkan kesalahan baca meter manual (human error) dan praktik percaloan/kolusi pencatat meter.
    • Mendeteksi upaya pengrusakan atau pembalikan arah meter (tampering).
  • Implementasi: PDAM Surya Sembada Surabaya telah memasang 1.000 unit meter pintar di kawasan Pakuwon City sebagai pilot project menuju Surabaya Smart City, memungkinkan transparansi tagihan bagi pelanggan dan akurasi pendapatan bagi PDAM.

6.2 SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition)

Sistem SCADA memungkinkan pengawasan terpusat terhadap seluruh jaringan distribusi.

  • Fungsi: Sensor tekanan dan debit yang tersebar di jaringan mengirim data real-time ke ruang kontrol (Command Center).
  • Respon Cepat: Jika terjadi pipa pecah besar (burst), tekanan akan anjlok drastis. SCADA akan memberikan alarm lokasi, memungkinkan tim perbaikan meluncur segera, meminimalkan volume air yang terbuang.
  • Integrasi IKN: Di Ibu Kota Nusantara, sistem SCADA dirancang sejak awal untuk memantau tidak hanya kuantitas (tekanan/debit) tetapi juga kualitas air secara real-time, menjadi standar baru pengelolaan air di Indonesia.

6.3 Geographic Information System (GIS)

Sistem Informasi Geografis (GIS) adalah fondasi data. Tanpa peta jaringan yang akurat (lokasi pipa, diameter, jenis material, tahun pasang), mustahil melakukan manajemen aset yang efektif. GIS memungkinkan PDAM memvisualisasikan data kebocoran, merencanakan DMA, dan memprioritaskan rehabilitasi pipa berdasarkan data historis kerusakan.


Bab 7: Studi Kasus Implementasi di Berbagai Daerah

Keberhasilan dan tantangan penurunan NRW paling baik dipahami melalui lensa pengalaman empiris PDAM di berbagai daerah.

7.1 PDAM Kota Malang: Benchmark Nasional

PDAM Kota Malang (kini Perumda Tugu Tirta) diakui sebagai salah satu success story terbesar di Indonesia dan menjadi lokasi pembelajaran (Center of Excellence).

  • Pencapaian: Berhasil menurunkan NRW secara konsisten hingga di bawah 20% (level efisiensi kelas dunia), bahkan mencapai 16% di beberapa periode.
  • Kunci Sukses: Implementasi 100% DMA di seluruh wilayah layanan, zona air siap minum (ZAMP), dan budaya kerja yang sangat disiplin dalam merespon kebocoran. Mereka membuktikan bahwa PDAM di Indonesia mampu mencapai standar internasional dengan manajemen yang tepat.

7.2 PDAM Surya Sembada Surabaya: Inovasi di Kota Metropolitan

Sebagai kota terbesar kedua, Surabaya menghadapi tantangan jaringan pipa peninggalan Belanda yang sangat tua.

  • Strategi: Kombinasi rehabilitasi pipa masif dengan teknologi modern. Surabaya meluncurkan aplikasi pelanggan yang terintegrasi dengan meter pintar, serta menerapkan manajemen aset berbasis ISO 55001. Meskipun NRW masih berfluktuasi di angka 30-an%, upaya digitalisasi mereka menjadi model bagi kota besar lainnya.

7.3 PDAM Tirta Moedal Semarang: Analisis Neraca Air

Semarang menghadapi tantangan topografi berbukit yang menyulitkan manajemen tekanan.

  • Pendekatan: Fokus pada studi neraca air mendalam menggunakan WB-EasyCalc. Analisis mereka menemukan bahwa kehilangan fisik dominan di jaringan distribusi, sementara kehilangan komersial juga signifikan. Pembentukan DMA di zona-zona kritis seperti “Mojo” dan “Manyaran” menjadi prioritas investasi.

7.4 DKI Jakarta (PAM JAYA): Tantangan Transisi

Setelah berakhirnya masa privatisasi air, PAM JAYA mengambil alih operasi penuh dengan beban NRW warisan yang sangat tinggi (mencapai 46%).

  • Target: Menurunkan NRW menjadi 26% pada 2030.
  • Tindakan: Proyek besar-besaran penggantian pipa distribusi, penertiban sambungan ilegal yang agresif, dan pembentukan DMA baru. Tantangan utamanya adalah kesulitan teknis melakukan galian di kota yang sangat padat dan macet, sehingga teknologi trenchless (tanpa gali) menjadi opsi mahal namun perlu.

7.5 PDAM Kebumen: Pemanfaatan Hibah Kinerja

PDAM Tirta Bumi Sentosa Kebumen adalah contoh sukses pemanfaatan dana hibah.

  • Prestasi: Memperoleh dana Hibah Air Minum Berbasis Kinerja (HAMBK) berturut-turut karena berhasil memenuhi target indikator kinerja (kualitas, kuantitas, tekanan, NRW). Dana hibah yang diterima kembali diinvestasikan untuk perbaikan sistem, menciptakan siklus positif perbaikan kinerja.

Bab 8: Tantangan, Hambatan, dan Solusi

8.1 Hambatan Finansial dan Tarif

Banyak PDAM terkunci dalam masalah klasik: tarif air tidak menutup biaya produksi (Full Cost Recovery - FCR). Tanpa tarif yang sehat, PDAM tidak memiliki dana untuk pemeliharaan, apalagi investasi teknologi NRW. Kenaikan tarif seringkali menjadi komoditas politik yang dihindari Kepala Daerah.

  • Solusi: Implementasi subsidi pemerintah daerah yang transparan (PSO) atau penyesuaian tarif bertahap yang diimbangi dengan janji peningkatan layanan (air mengalir 24 jam).

8.2 Kapasitas Sumber Daya Manusia

Teknologi canggih seperti SCADA dan DMA memerlukan operator yang kompeten. Banyak PDAM di daerah kekurangan tenaga ahli teknik lingkungan/sipil yang paham hidrolika jaringan.

  • Solusi: Program pelatihan dan sertifikasi kompetensi yang digalakkan oleh PERPAMSI dan Kementerian PUPR, serta pendampingan teknis melalui program NUWSP.

8.3 Akurasi Data

“Sampah masuk, sampah keluar.” Banyak program NRW gagal karena data awal (peta jaringan, jumlah pelanggan, total produksi) tidak akurat.

  • Solusi: Langkah pertama setiap inisiatif NRW haruslah sensus aset dan sensus pelanggan untuk memvalidasi data dasar sebelum investasi fisik dilakukan.

Bab 9: Kesimpulan dan Rekomendasi

Penurunan NRW di Indonesia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan stamina institusional. Dari analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa teknologi dan pendanaan sudah tersedia melalui berbagai inisiatif nasional (NUWSP, Hibah, KPBU). Hambatan utama kini bergeser pada aspek governance, komitmen kepemimpinan daerah, dan eksekusi teknis yang disiplin.

Rekomendasi Strategis:

  1. Wajibkan DMA: Jadikan pembentukan DMA sebagai standar operasional prosedur (SOP) wajib bagi seluruh PDAM, bukan sekadar proyek percontohan.
  2. Insentif Fiskal: Perluas skema hibah berbasis kinerja (PBG) karena terbukti paling efektif mengubah perilaku operator.
  3. Digitalisasi Data: Dorong migrasi total ke sistem GIS dan SCADA untuk transparansi data.
  4. Penegakan Hukum: Tindak tegas pencurian air, tidak hanya pada pelanggan kecil tetapi juga pada pencurian skala industri/komersial yang merugikan negara miliaran rupiah.

Dengan strategi yang terintegrasi dan konsisten, visi menekan NRW nasional menuju angka 20% dan mencapai target 100% akses air aman pada 2030 adalah sasaran yang realistis untuk dicapai.


Tabel Data Pendukung: Perbandingan Inisiatif Utama Penurunan NRW

Inisiatif Sumber Pendanaan Fokus Utama Mekanisme Target
NUWSP World Bank & APBN Bantuan Teknis & Capex Matching Grant & TA PDAM Perkotaan (Sehat/Kurang Sehat)
Hibah Air Minum Berbasis Kinerja (PBG) APBN, KIAT, DFAT Kinerja Output Reimbursement pasca verifikasi BPKP PDAM dengan komitmen Pemda tinggi
KPBU (PPP) Swasta Investasi Teknologi Performance Based Contract (Bagi Hasil) Kota Besar (Jakarta, Semarang, dll)
PAMSIMAS/Hibah Perdesaan APBN Akses MBR Hibah infrastruktur dasar Wilayah perdesaan/kelurahan

Daftar Pustaka

  1. Bappenas. (2025). Master Plan Produktivitas Nasional 2025-2029. Kementerian PPN/Bappenas. komens.bappenas.go.id
  2. Kementerian PPN/Bappenas. (2025). Public-Private Partnership (PPP) Book 2025. Jakarta. perpustakaan.bappenas.go.id
  3. Jakarta Investment Centre. (n.d.). NRW Reduction Project. invest.jakarta.go.id
  4. Kementerian PUPR. (n.d.). Kinerja BUMD Air Minum. Open Data PU. data.pu.go.id
  5. JICA. (n.d.). Modul Pelatihan Penurunan NRW Buku 1. openjicareport.jica.go.jp
  6. Pos Jateng. (n.d.). PDAM Solo Rugi Rp24,08 Miliar karena Kehilangan Air. posjateng.id
  7. Asian Development Bank. (n.d.). Buku Pegangan tentang Air Tak Berekening (NRW) untuk Manajer. adb.org
  8. BPK Perwakilan Provinsi DKI Jakarta. (n.d.). Privatisasi Air Rugikan PAM Jaya Rp 1,4 Triliun. jakarta.bpk.go.id
  9. Republika. (n.d.). Kerugian Akibat Kebocoran Pipa di Jakarta Bisa Capai Rp 2,5 Triliun per Tahun. news.republika.co.id
  10. World Bank. (n.d.). Indonesia Support to National Urban Water Supply. documents1.worldbank.org
  11. Bappenas. (n.d.). RPJMN 2025-2029: Ringkasan Teknokratik. perpustakaan.bappenas.go.id
  12. World Bank. (n.d.). National Urban Water Supply Project (P156125). documents1.worldbank.org
  13. Kementerian PUPR. (2020). Permen PUPR No. 29 Tahun 2020 tentang Rekomendasi Teknis. BPK. peraturan.bpk.go.id
  14. Universitas Balikpapan. (n.d.). Analisis Non Revenue Water (NRW) PDAM Kota Balikpapan. transukma.uniba-bpn.ac.id
  15. ResearchGate. (n.d.). Water Loss Study in the District Meter Area Planning of PDAM Pasuruan City. researchgate.net
  16. Adika Tirta Daya. (n.d.). Ketahui Non Revenue Water (NRW) dan Cara Mengurangi Kerugiannya. adikatirtadaya.co.id
  17. Swatermeters. (n.d.). Untuk mengurangi air non-pendapatan, Anda perlu mengetahui hal-hal ini. id.swatermeters.com
  18. ResearchGate. (n.d.). Analysis of Non-Revenue Water reduction using the FAVAD method in DMA planning. researchgate.net
  19. Jurnal Serambi Engineering. (n.d.). Studi Tingkat Kehilangan Air Minum Perumda Air Minum Tirta Moedal Kota Semarang. jse.serambimekkah.id
  20. Repository UIN Ar-Raniry. (n.d.). Analisis Tingkat Kehilangan Air PDAM Tirta Daroy Kota Banda Aceh. repository.ar-raniry.ac.id
  21. Kementerian PUPR. (2025). Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum Tahun 2025-2029. sahabat.pu.go.id
  22. Bappeda Lhokseumawe. (2024). Konsep Rancangan Teknokratik RPJMN Tahun 2025-2029. dasibangsida.lhokseumawekota.go.id
  23. BPK. (2020). Lampiran Permen PUPR No. 29 Tahun 2020. peraturan.bpk.go.id
  24. BPKP Jawa Timur. (2021). Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). ppid.jemberkab.go.id
  25. BRIDA Surakarta. (n.d.). Penyusunan Dokumen Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) Kota Surakarta. brida.surakarta.go.id
  26. World Bank. (n.d.). Implementation Status & Results Report NUWSP (P156125). documents1.worldbank.org
  27. BPK Jawa Tengah. (2023). PDAM Kebumen Kembali Terima Hibah Air Minum Berbasis Kinerja. jateng.bpk.go.id
  28. Kementerian Keuangan. (2023). PMK 107/2023 tentang Tata Cara Penyaluran Hibah. jdih-old.kemenkeu.go.id
  29. Inspektorat Klaten. (n.d.). Tim dari Inspektorat Daerah Kabupaten Klaten. inspektorat.klaten.go.id
  30. BPK. (n.d.). Salinan Peraturan Hibah Air Minum. peraturan.bpk.go.id
  31. Invest in Indonesia. (2024). PPP Book 2024. investinindonesia.uk
  32. Kemenkeu KPBU. (n.d.). Mengoptimalkan Peran KPBU dalam Penurunan NRW. kpbu.kemenkeu.go.id
  33. Jurnal Purifikasi. (n.d.). Strategi Pengendalian NRW Melalui Perencanaan DMA dan SCADA. purifikasi.id
  34. OJS Unud. (n.d.). Analisis Kehilangan Air pada Sistem Distribusi Air Minum. ojs.unud.ac.id
  35. Jurnal ITN. (n.d.). Upaya Penurunan Tingkat Kehilangan Air Secara Fisik pada Sistem Distribusi PDAM Kota Malang. ejournal.itn.ac.id
  36. PDAM Surya Sembada. (n.d.). Inovasi Terbaru! PDAM Surya Sembada Terapkan Smart Water Meter. YouTube.
  37. PDAM Surabaya. (n.d.). Peringati Hari Jadi Ke-48, PDAM Surabaya Luncurkan 1.000 Meter Air Pintar. pdam-sby.go.id
  38. Otorita IKN. (n.d.). Pedoman Teknis Smart Water & Smart Wastewater Management. ikn.go.id
  39. SUPRA International. (n.d.). Challenges for Indonesian Water Utilities in Reducing NRW. supra-international.com
  40. SciSpace. (n.d.). Water Loss Detection System of Malang Water Supply System. scispace.com
  41. PPJP ULM. (n.d.). Analisis Kehilangan Air dengan Metode Neraca Air dan ILI pada PDAM Surya Sembada. ppjp.ulm.ac.id
  42. PERPAMSI. (n.d.). Dorong Penurunan NRW Secara Nasional. perpamsi.or.id
  43. Jurnal Konstruksia. (n.d.). Studi Kehilangan Air Pada Sistem Distribusi PDAM Tirta Khatulistiwa. jurnal.umj.ac.id
  44. DDTC News. (2025). RPJMN 2025-2029: Ekonomi Ditarget Tumbuh 6,1%. news.ddtc.co.id
  45. Bappenas. (2025). Narasi RPJMN Tahun 2025-2029. perpustakaan.bappenas.go.id
  46. Dege Consult. (2018). Performance-Based Grant Systems. dege.dk